LAPORAN PRAKTIKUM
BUDIDAYA PAKAN ALAMI
- Kultur Daphia sp (Daphnia sp) Water Fleas
- Penetasan, Pengkayaan, Dekapsulasi Artemia
- Kultur Chlorella sp Skala Lab.


OLEH
KEL IV
Agus Frikardo Saragih
D4 08 AK 030
P
ROGRAM ALIH JENJANG DIPLOMA IV
KONSENTRASI AKUAKULTUR
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
JOINT PROGRAM PPPPTK PERTANIAN CIANJUR
DAN SEAMOLEC JAKARTA
2009
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam usaha budidaya ikan ada dua kegiatan yang sangat penting yaitu pembenihan ikan dan pembesaran ikan. Pembenihan ikan memegang peranan penting dalam pengembangan suatu usaha budidaya ikan. Salah satu faktor yang sangat berperan dalam menunjang keberhasilan suatu usaha pembenihan adalah ketersediaan pakan alami.
. Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar yang mendiami kolam-kolam, sawah dan perairan umum (danau) yang banyak mengandung bahan organik. Sebagai organisme air, Daphnia dapat hidup di perairan yang berkualitas baik. Beberapa faktor ekologi perairan yang berpengaruh terhadap perkembangbiakan Daphnia antara lain adalah kesadahan, suhu, oksigen terlarut dan pH.
Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias air tawar karena ukurannya yang sangat kecil. Disamping ukurannya yang kecil, nilai gizi Artemia juga sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan krustacea yang tumbuh dengan sangat cepat. Sampai saat ini Artemia sebagai pakan alami belum dapat digantikanoleh pakan lainnya. Artemia biasanya diperjual belikan dalam bentuk kista/cyste, sehingga sebagai pakan alami Artemia merupakan pakan yang paling mudah dan praktis, karena hanya tinggal menetaskan kista saja. Akan tetapi, menetaskan kista Artemia bukan suatu hal yangdengan begitu saja dapat dilakukan oleh setiap orang. Sebab membutuhkan suatu keterampilan dan pengetahuan tentang penetasan itu sendiri. Kegagalan dalam menetaskan kista Artemia barakibat fatal terhadap larva ikan yang sedang dipelihara.
B. Tujuan
- Memampu mahasiswa melakukan kultur Massal Kutu Air (Daphnia sp), dan menganalisa faktor - faktor yang mempengaruhi.
- Memampukan mahasiswa melakukan Penetasan, Pengkayaan, Dekpsulasi Artemia.
- Mahasiswa mampu melakukan analisa terhadap keberhasian penetasan Cyste Artemia dan yang mempengaruhinya.
- Mahasiswa mengetahui pengaruh pengkayaan Artemia terhadap pertumbuhan.
- Mahasiswa mampu melakukan kultur Chlorella sp, skala laboratorium.
II.TINJAUAN PUSTAKA
A. Kutu Air (Daphnia sp)
Daphnia sp. adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar, mendiami kolam-kolam atau danau-danau. Daphnia sp. dapat hidup di daerah tropis dan subtropis. Kehidupan Daphnia sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor ekologi perairan antara lain: suhu, oksigen terlarut dan pH. Daphnia sp. dapat beradaptasi dengan baik pada perubahan lingkungan hidupnya dan termasuk dalam ketegori hewan eutitropik dan tahan terhadap fluktuasi suhu harian atau tahunan. Kisaran suhu yang dapat ditolerir bervariasi sesuai adaptasinya pada lingkungan tertentu.
Daphnia sp. dapat hidup dalam air yang kandungan oksigen terlarutnya sangat bervariasi yaitu dari hampir nol sampai lewat jenuh. Ketahanan Daphnia sp. pada perairan yang miskin oksigen mungkin disebabkan oleh kemampuannya dalam mensintesis haemoglobin. Dalam kenyataannya, laju pembentukan haemoglobin berhubungan dengan kandungan oksigen lingkungannya. Naiknya kandungan haemoglobin dalam darah Daphnia sp. dapat juga diakibatkan oleh naiknya temperatur, atau tingginya kepadatan populasi. Untuk dapat hidup dengan baik Daphnia sp. memerlukan oksigen terlarut yang cukup besar yaitu di atas 3,5 ppm.
Daphnia sp. hidup pada kisaran pH cukup besar, tetapi nilai pH yang optimal untuk kehidupannya sukar ditentukan. Lingkungan perairan yang netral dan relatif basah yaitu pada pH 7,1 – 8,0 baik untuk Budidaya Daphnia 16 pertumbuhannya. Pada kandungan amoniak antara 0,35 – 0,61 ppm, Daphnia sp. masih dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik. Di alam genus Daphnia mencapai lebih dari 20 spesies dan hidup pada berbagai jenis perairan tawar, terutama di daerah sub tropis.Daphnia sp. Sebagai hewan air, juga dikenal sebagai kutu air (= water fleas).
Daphnia sp. dapat diklasifikasikan dalam :
Philum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Klas : Branchiopoda
Divisi : Oligobranchiopoda
Ordo : Cladocera
Famili : Daphnidae
Genus : Daphnia
Spesies : Daphnia sp.
Bentuk tubuh Daphnia sp. lonjong dan segmen badan tidak terlihat . Pada bagian ventral kepala terdapat paruh. Kepala mempunyai lima pasang apendik, yang pertama disebut antenna pertama, kedua disebut antenna kedua yang mempunyai fungsi utama sebagai alat gerak. Tiga pasang yang terakhir adalah bagian-bagian dari mulut. Tubuh ditutupi oleh cangkang dari kutikula yang mengandung khitin yang transparan, di bagian dorsal bersatu, tetapi dibagian ventral terbuka dan terdapat lima pasang kaki.
Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar yang mendiami kolam-kolam, sawah dan perairan umum (danau) yang banyak mengandung bahan organik. Sebagai organisme air, Daphnia dapat hidup di perairan yang berkualitas baik. Beberapa faktor ekologi perairan yang berpengaruh terhadap perkembangbiakan Daphnia antara lain adalah kesadahan, suhu, oksigen terlarut dan pH. Cara membudidayakan Daphnia dapat dilakukan dengan melakukan pemupukan pada wadah budidaya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan phytoplankton di dalam wadah budidaya yang digunakan oleh Daphnia sebagai makanannya agar tumbuh dan berkembangbiak. Pada budidaya Daphnia di kolam pupuk yang digunakan berupa kotoran ayam (kering) dengan dosis 1 kg/m2. Selain kotoran ayam, pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan kotoran burung puyuh. Dalam membudidayakan Daphnia sebaiknya wadah budidayanya diletakkan di ruang terbuka yang mendapat sinar matahari yang cukup dan sangat dibutuhkan untuk proses fotosintesa phytoplankton.Kedalaman air pada wadah budidaya Daphnia sebaiknya lebih dari 60 cm, agar Daphnia bisa terhindar dari intensitas cahaya matahari yang tinggi pada siang hari. Biasanya pada siang hari Daphnia akan berenang ke dasar wadah untuk menghindari intensitas cahaya dan suhu yang tinggi. Sebaliknya tingginya intensitas cahaya matahari akan merangsang phytoplankton untuk tumbuh cepat. Untuk menghindari meluapnya air pada saat hujan, sebaiknya wadah budidaya Daphnia diberi naungan dengan atap yang terbuat dari plastik/fiber yang transparan. Daphnia merupakan salah satu hewan yang sangat sensitif terhadap kontaminasi bahan kimia. Sebagai contoh apabila wadah budidayanya baru dibuat maka wadah tersebut harus direndam/dibilas dengan air sampai wadah tersebut tidak berbau. Untuk budidaya Daphnia, air yang digunakan sebaiknya memiliki kesadahan 250 mg/liter CO3 dan pH air dipertahankan sekitar 7 – 8 dengan cara dilakukan pengapuran di dalam wadah budidaya dengan kapur pertanian.
sebaiknya di dalam wadah budidaya Daphnia juga diberi aerator yang berfungsi untuk menghasilkan oksigen di dalam wadah budidaya agar nilai oksigen terlarut di wadah tersebut diatas 3,5 ppm dan kadar amonia kurang dari 0,2 mg/liter. Dari beberapa parameter kualitas air yang telah diuraikan sebelumnya dapat diketahui bahwa Daphnia memerlukan kualitas air yang prima untuk media hidupnya. Sama halnya dengan ikan, oksigen sangat diperlukan oleh Daphnia untuk mendukung kehidupannya, sedangkan amonia bersifat racun yang dapat mengakibatkan kematian. Untuk mempertahankan kondisi air selama masa budidaya agar tetap prima, maka air harus diaerasi secara kontinyu serta dilakukan pergantian air. Pergantian air pada media budidaya Daphnia dapat dilakukan dengan cara penyiponan, yaitu air didalam wadah budidaya dibuang dengan cara menggunakan selang. Pergantian air ini sangat bergantung kepada kebutuhan Daphnia di dalam media budidaya
Ruang antara cangkang dan tubuh bagian dorsal merupakan tempat pengeraman telur. Pada ujung post abdomen terdapat dua kuku yang berduri kecil-kecil. Pada habitat aslinya, Daphnia sp. Berkembangbiak secara parthenogenesis. Perbandingan jenis kelamin atau “sex ratio” pada Daphnidae menunjukkan keragaman dan tergantung pada
kondisi lingkungannya. Pada lingkungan yang baik, hanya terbentuk individu betina tanpa individu jantan. Pada kondisi ini, telur dierami didalam kantong pengeraman hingga menetas dan anak Daphnia sp. dikeluarkan pada waktu pergantian kulit. Didalam kondisi yang mulai memburuk, disamping individu betina dihasilkan individu jantan yang dapat mendominasi populasi dengan perbandingan 1 : 27. Dengan munculnya individu jantan, populasi yang bereproduksi secara seksual akan membentuk efipia atau “resting egg” disebut juga siste yang akan menetas jika kondisi perairan baik kembali. Terbentuknya telur-telur yang menghasilkan individu jantan dirangsang oleh :
- Melimpahnya individu betina yang mengakibatkan akumulasi hasil ekspresi
- Berkurangnya makanan yang tersedia
- Menurunnya suhu air dari 25-30 menjadi 14-17 derajat celcius
Kondisi-kondisi tersebut dapat mengubah metabolisme Daphnia sp. sehingga dapat mempengaruhi mekanisme kromosomnya. Di daerah tropis, Daphnia sp. yang didatangkan dari daerah subtropis seringkali juga membentuk efipia pada musim kemarau. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5 mm anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp. mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Pada lingkungan yang bersuhu antara 22 – 310C pH antara 6,6 – 7,4 Daphnia sp. sudah menjadi dewasa dalam waktu empat hari dengan umur yang dapat dicapai hanya 12 hari. Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan beranak 29 ekor. Jadi selama hidupnya hanya dapat beranak tujuh kali dengan jumlah yang dihasilkan 200 ekor.
Selama hidupnya Daphnia sp. mengalami empat periode yaitu telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas didalam ruang pengeraman. Setelah dua kali instar pertama, anak Daphnia sp. yang bentuknya mirip Daphnia sp. Dewasa dilepas dari ruang pengeraman. Jumlah instar pada stadium anak ini
hanya dua sampai lima kali, tetapi tingkat pertumbuhan tertinggi terjadi pada stadium ini.
Periode remaja adalah instar tunggal antara instar anak terakhir dan instar dewasa pertama. Pada periode ini sekelompok telur pertama mencapai perkembangan penuh di dalam ovarium. Segera setelah Daphnia sp. ganti kulit pada akhir instar remaja memasuki instar dewasa pertama, sekelompok telur pertama dilepaskan ke ruang pengeraman. Selama instar dewasa pertama, kelompok telur kedua berkembang di ovarium dan seterusnya. Namun adakalanya terdapat periode steril pada Daphnia sp. tua. Pertambahan panjang dan bobot Daphnia sp. selama pertumbuhan cukup pesat, terutama setelah ganti kulit. Selama instar anak terjadi pertumbuhan hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum ganti kulit.Sedangkan pertambahan volume terjadi dalam beberapa detik atau
menit sebelum eksoskeleton baru mengeras dan kehilangan elastisitasnya.
Pada akhir setiap instar Daphnia sp. dewasa terdapat peristiwa berurutan yang berlangsung cepat, biasanya terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam, yaitu :
(1) Lepasnya atau keluarnya anak dari ruang pengeraman;
(2) Ganti kulit (molting);
(3) Pertambahan ukuran;
(4) Lepasnya sekelompok telur baru ke ruang pengeraman;
B. Artemia sp
Artemia (brine shrimp) termasuk udang-udangan primitif. Artemia hidup planktonik di perairan yang berkadar garam tinggi, yaitu antara 15 – 300‰. Suhu yang dikehendaki berkisar antara 25 – 30ºC, oksigen terlarut 3 mg/l dan pH antara 7,3 – 8,4. Artemia adalah salah satu jenis krustasea tingkat rendah yang termasuk dalam filum : Arthropoda, kelas : Crustacea, bangsa : Anostraca, suku : Artemidae, marga : Artemia, jenis : Artemia salina.

Gambar 1. Artemia
Telur artemia yang kering atau kista berbentuk bulat cekung, berwarna coklat, berdiameter 200 – 300 mikron dan di dalamnya terdapat embrio yang tidak aktif. Nauplius artemia mempunyai tiga pasang anggota badan yakni antenna I yang berfungsi sebagai alat sensor, antena II berfungsi sebagai alat gerak atau penyaring pakan dan rahang bawah belum sempurna. Di bagian kepala antara ke dua antenna terdapat bintik merah (ocellus) yang berfungsi sebagai mata nauplius. Artemia dewasa berukuran 1 – 2 cm dengan sepasang mata majemuk dan 11 pasang thoracopoda. Setiap thoracopoda mempunyai eksopodit, endopodit dan epipodit yang masing-masing berfungsi sebagai alat pengumpul pakan, alat berenang dan alat pernapasan. Pada yang jantan, antenna II berkembang menjadi alat penjepit dan pada bagian belakang perut terdapat sepasang penis. Pada yang betina, antenna menjadi alat sensor dan pada kedua sisi saluran pencernaan terdapat sepasang ovari. Telur-telur yang telah masak dipindahkan dari ovari ke dalam sebuah kantong telur atau uterus (Sumeru, 1984).
Perkembangbiakan artemia ada dua cara, yakni parthenogenesis dan biseksual. Jenis biseksual tidak dapat berkembangbiak secara parthenogenesis dan juga sebaliknya. Pada jenis parthenogenesis, perkembangbiakan tidak melalui proses perkawinan. Pada jenis ini, induk betina akan beranak dengan sendirinya tanpa kawin. Apabila betina parthenogenesis dijodohkan dengan pejantan biseksual maka induk betina tersebut tetap tidak mau kawin (Ahmad Mudjiman, 2004). Artemia mengalami beberapa fase dalam daur hidupnya (Kontara dkk, 1987) yakni : kista, nauplius dan dewasa.
Prekopulasi pada artemia dimulai dengan jantan menjepit/mendekap betina dibagian antara uterus dan pasangan thoracopoda terakhir. Pasangan tersebut dapat berenang berkeliling selama 3 – 4 hari. Kopulasi terjadi sangat cepat dengan cara melingkarkan perut jantan ke dapan kemudian penis dimasukkan ke dalam lubang uterus dan telur dibuahi. Telur yang telah dibuahi pada umumnya berkembang menjadi nauplius yang berenang bebas atau bila kandungan oksigennya rendah dan salinitas tinggi, embrio hanya berkembang sampai stadium gastrula dan tersimpan sebagai kista. Seekor betina dapat menghasilkan 50 – 200 kista. Daur perkembangbiakan dengan selang waktu terpendek 4 hari.
Populasi artemia di alam terdapat di danau garam (perairan pantai atau darat yang banyak mengandung khlor, sulfat atau karbonat). Artemia mempunyai sistem osmoregulasi yang efisien, sehingga mampu beradaptasi pada kisaran salinitas yang luas, yakni 1 – 200%. Di samping itu artemia mampu mensintesis hemoglobin secara efisien untuk mengatasi kandungan oksigen rendah pada keadaan salinitas tinggi. Toleransinya terhadap suhu cukup luas, yaitu 6 – 35º C, suhu optimum berada pada kisaran 25 – 40º C (Kontara dkk, 1987)
Artemia dapat tumbuh cepat di perairan laut. Pada budidaya artemia dalam bak, hasil pertumbuhan terbaik dicapai pada salinitas 35‰. Artemia mempunyai sifat dapat tumbuh dengan baik pada kepadatan populasi yang tinggi dan dapat dibudidayakan dengan kepadatan 10.000 – 15.000 ekor nauplius per liter air laut. Artemia dapat tumbuh dari nauplius menjadi dewasa dalam waktu sekitar dua minggu dengan peningkatan panjang sekitar 5 kali (Kontara dkk, 1987).
Artemia termasuk jasad hidup penyaring pakan tidak selektif yang dapat memakan bahan dan jasad hidup dengan ukuran 1 – 5 mili mikron. Jenis pakan tersebut dapat berupa dedak, ragi, alga renik, bakteri, dan jasad renik lainnya.

Gambar 2. Kemasan cyste artemia
Artemia merupakan zooplankton yang diklasifikasikan ke dalam filum Arthropoda dan kelas Crustacea. Secara lengkap sistemarika artemia dapat dijelaskan sebagai berikut.
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Branchiophoda
Ordo : Anostraca
Famili : Artemiidae
Genus : Artemia
Spesies : Artemia salina linn.
Nama Artemia sp. diberikan untuk pertama kali oleh Schlosser yang menemukannya di suatu danau asin pada tahun 1755. Kemudian oleh Linnaeus (1758) melengkapkan nama remik ini menjadi Artemia salira. karena daya toleransinya terhadap salinitas yang amat tinggi.
Selain spesies Artemia, salimi, ada beberapa spesies yang diberikan nama bagi strain zigogenerik, yaitu bila di dalam populasi bercampur antara spesies berina dan jantan. Nama-nama tersebut di antaranya Artemia tunisiana. Anemia franciscana, Anemia fersimilis, Artemia urmiana, dan Anemia monica. Namun demikian, nama Anemia salina atau disingkat artemia saja tetap umum digunakan. Nama ini pula yang digunakan dalam buku ini.
Ada pula populasi artemia yang hanya terdiri atas individu-individu betina saja. Strain artemia demikian dikenal dengan istilah partenogenetik karena berkembangbiak tanpa melalui perkawinan, tetapi artemia betina langsung saja bunting. Untuk strain ini juga hanya digunakan nama genus Artemia saja. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerancuan pemakaian istilah. Dengan demikian, pemakaian istilah artemia tidak memperhatikan jenis kelamin suatu populasi.
Sampai saat ini sudah dikenal lebih dari 50 strain artemia. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah san francisco bay, sack bay australia, chapin canada, macao, great salt lake, algues masters perancis, china, dan philippina. Pada prinsipnya perbedaan antara satu strain dengan strain lainnya terletak pada daya tetasnya, ukuran nauplius, ketahanan terhadap lingkungan, serta kebutuhan temperatur dan salinitas optimal.
Pada kemampuan daya penetasan, misalnya, pada beberapa strain perlu perlakuan-perlakuan khusus pada kista agar diperoleh embrio yang mampu berkembang dengan hasil yang memuaskan. Perlakukan tersebut misalnya berupa hibernasi (pendinginan) dan pelarutan ke dalam cairan peroksida.( http://ruly.blogdetik.com/2008/11/25/sifat-biologis-artemia/)
III. METODELOGI
- Waktu dan Tempat Pelaksanaan.
Praktikum Kultur Pakan alami (Daphnia sp, Penetasan Artemia, Pengkayaan, dan Dekapsulasi Artemia ini dilaksanakan mulai 13 Februari hingga Pertengahan Maret 2009 Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK Pertanian Cianjur.
- Alat dan Bahan
1. Alat dan Bahan Kultur Daphnia sp
§ Wadah budidaya (bakbeton)
§ Sikat
§ Ember
§ DO meter
§ pH meter
Ø Aerator/blower
Ø Selang aerasi dan pemberat
Ø Meteran
Ø Air bersih/air kolam
Ø Pupuk kandang (kotoran ayam)
2. Alat dan Bahan Penetasan Cyste Artemia
-
- Wadah penetasan
- Blower
- Selang aerasi dan batu aerasi
- Sikat dan lam kasar
- Selang air
- Timbangan
- Filter pasir
- Deterjen
- Garam tanpa yodium
- Air tawar
3.Alat dan bahan Pengkayaan Artemia
· Galon penetasan artemia
· Blower aerasi
· Timbangan digital analitik
· Gelas ukur
· Refraktometer
· pH meter
· Thermometer
· Mikroskop
· Preparat
· Mangkok
· Sendok
· Akuarium
· Automatic water heater
· Ciste artemia
· Garam
· Air
· Minyak ikan
· Minyak jagung
· Kuning telur
· Ragi
- Alat dan bahan Dekapsulasi Artemia
· Galon penetasan artemia
· Blower aerasi
· Timbangan digital analitik
· Gelas ukur
· Refraktometer
· pH meter
· Thermometer
· Mikroskop
· Preparat
· Mangkok
· Sendok
· Akuarium
· Automatic water heater
· Ciste artemia
· Garam
· Air
· Minyak ikan
· Minyak jagung
· Kuning telur
· Ragi
- Prosedur Kerja
1. Kultur Daphnia sp
ü Menyiapakan alat dan bahan
ü Membersihkan wadah yang akan digunakan dengan cara menyikat wadah tersebut sampai bersih, kemudian bilas dengan air bersih dan keringkan.
ü Masukkan air bersih atau air kolam atau sumber air lainnya ke dalam wadah budidaya sampai kedalaman air 30 cm
ü Memasukkan pupuk kandang kedalam wadah budidaya 350 gr (volume air 600 liter (bak 1 x 2 x 0,3 cm). dalam wadah plastic yang dilubangi dan dberi pemberat dengan batu.
ü Tiga hari berikutnya induk Daphnia ditebar. ( jumlah populasi 1600 ekor volume air).
ü Hari yang ke-7 dilakukan pemupukan susulan ( penambahan pupuk kandang 200 gr)
ü Hari berikutnya dilakukan pengamatan pertumbuhan biomassa Daphnia hingga hari ke 13.
2. Penetasan Cyste Artemia
ü Siapkan alat dan bahan
ü Siapkan wadah penetasan Artemia
ü Isilah air sebanyak 5 l iter dan tambahkan garam hingga salinitas menjadi 28 ppt
ü Timbanglah Artemia sebanyak 2 gram
ü Masukkanlah Artemia ke wadah penetasan yang sudah terisi air laut dan diaerasi.
ü Diamkanlah selama 16-18 jam
ü Perhatikanlah warna media penetasan, jika sudah terjadi perubahan warna dari coklat muda ke oranye maka Artemia sudah menetas.
3.Pengkayaan Artemia
ü Menyiapkan akuarium dan media (bersihkan akuarium dan isi air tawar bersih dan dipasang aerasi)
ü Masukkan larva Bawal kedalam kedalam akuarium
ü Menyiapakan emulsi ( ragi 0,025 gr , minyak ikan 0,01 ml , kuning telur 0,01 ml, dilarutkan dalam air 100 ml
ü Hasil emulsi dimasukkan kedalam wadah kultur artemia
ü Setelah 6 – 8 jam diberikan pada larva ikan Bawal.
ü pemberian pakan artemia dilakukan dua kali sehari pagi diberi pakan artemia tanpa pengkayaan dan sore dengan pengkayaan dengan minyak ikan (scot emulsion)
ü Mengamati pertumbuhan artemia
ü Berat Larva
ü Panjang Larva
4. Dekapsulasi Artemia
o Menyiapkan wadah penetasan cyste artemia sebanyak 3 buah gallon.
o Masig – masing gallon diisi air sebanyak 5 liter dan tiap – tiap gallon ditambah garam tidak beryodium hingga salanitas masing – masing gallon 33 ppt, 33 ppt, 35 ppt
o Merendam artemia 2 gram dalam 100 air tawar selama 1 jam
o Membuatan larutan dekapsulasi 1 gram kaporit dan 0,3 gr NaCo3 / dicampur dalam air salinitas 33 ppt sebanyak 100 ml dan didinginkan dengan es batu dalam box sterefoam selama 60 menit.
o Rendam artemia dalam larutan dekapsulasi dan beri aerasi sampai larutan berubah warna mnjadi orange selama 15 menit.
o Bilas kista 6 kali dengan air tawar untuk menghilangkan bau kaporit.
o Kultur artemia dengan perlakuan
§ Artemia tanpa dekapsulasi pada salinitas 33 ppt
§ Artemia yang telah didekapsulasi pada salinitas 33 ppt
§ Artemia yang telah di dekapsulasi pada salinitas 35 ppt
o Amati lama waktu penetasan kista artemia dan menghitung daya tetas kista artemia
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
- Hasil
1. Kultur Daphnia sp
Padat penebaran awal 2 individu/liter air x 600 liter = 1600 individu
a. Menghitung Kelimpahan
|
NO.
|
Tanggal
|
∑ = X/L
|
∑ = X/600L
|
Suhu
|
|
1.
|
09 Februari 2009
|
6 ekor
|
3600 ekor
|
220C
|
|
2.
|
10 Februari 2009
|
13 ekor
|
3900 ekor
|
220C
|
|
3.
|
11 Februari 2009
|
24 ekor
|
14400 ekor
|
230C
|
|
4.
|
12 Februari 2009
|
46 ekor
|
27600 ekor
|
220C
|
|
5.
|
13 Februari 2009
|
93 ekor
|
55800 ekor
|
230C
|
CATATAN:
∑ = Jumlah
X = Daphnia
L = Liter
b. Grafik pertumbuhan

2. Penetasan Cyste Artemia
· Jumlah kista yang digunakan seberat 2 gram (276.345 Butir cyste)
· Jumlah garam digunakan seberat 196 gram untuk mengubah salinitas air menjadi 28 ppt dan air sebanyak 5 liter.
· Jumlah Cyste yang menetas 231.340 ekor
· Persentase daya tetas = 231.340/ 276.345 X 100% = 83,71%
a. Pengamatan hari pertama (17.02.09)
|
Jam
|
Salinitas
|
Suhu
|
Panjang Naupli
|
Gambar
|
|
08.00
|
28 PPt
|
300C
|
-
|

|
b. Pengamatan hari kedua (18.02.09)
|
Jam
|
Salinitas
|
Suhu
|
Panjang Naupli
|
Gambar
|
|
08.00
|
28 PPt
|
310C
|
-
|

|
c. Pengamatan hari ketiga (19.02.09)
|
Jam
|
Salinitas
|
Suhu
|
Panjang Naupli
|
Gambar
|
|
08.00
|
28 PPt
|
290C
|
-
|

|
d. Pengamatan hari ke empat (20.02.09)
|
Jam
|
Salinitas
|
Suhu
|
Panjang Naupli
|
Gambar
|
|
08.00
|
28 PPt
|
300C
|
-
|

|
e. Pengamatan hari ke lima (21.02.09)
|
Jam
|
Salinitas
|
berat
|
Panjang
|
Gambar
|
|
08.00
|
28 PPt
|
300C
|
-
|

|
3. Pengkayaan Artemia
Berat larva awal 0,0015 gram/ekor
Berat larva pada hari ke tiga = 0,0025 gram/ekor
Berat larva pada hari ke lima = 0,0030 gram /ekor
Panjang Larva awal = 0,52 Cm
Panjang larva pada hari ke tiga = 0,61
Panjang larva pada hari ke Lima = 0,65
4. Dekapsulasi Artemia
Lama penetasan :
Salinitas 33 ppt tanpa dekapsulasi selama 18 jam
Salinitas 33 ppt dekpasulasi selama 14 jam
Salinitas 35 ppt dekapsulasi selama 14 jam
|
Daya tetas :
Salinitas 33 ppt
Jumlah cyste artemia yang ditetaskan 269.741 butir
Larva ( Kista yang menetas ) sebanyak 220.000
Daya tetas = 220.000 / 269741 X 100% = 81, 55 %
|
Dengan Dekapsulasi salinitas 33 ppt
( jumlah telur yang ditebar) 225.000 butir
Kista yang menetas 205.000 ekor
Persentase daya tetas = 205.000/ 225.000 x 100% = 91 %
|
Dekapsulasi salinitas 35 ppt
Jumlah telur yang ditebar = 289.120 butir
Kista yang menetas = 210.000 ekor
Persentase daya tetas = 210.000/ 289.120 x 100% = 72 %
|
Perlakuan
|
Jumlah cyste yang ditebar
|
Naupli Artemia
|
Persentase daya tetas
|
Lama penetasan
|
|
Salinitas 33 ppt
|
269.741 butir
|
220.000 ekor
|
81,55%
|
18 Jam
|
|
Salinitas 33 ppt, dan perlakuan Dekapsulasi
|
225.000 butir
|
205.000 ekor
|
91%
|
14 Jam
|
|
Salinitas 35 ppt dan perlakuan dekapsulasi
|
289.120 butir
|
210.000 ekor
|
72%
|
14 Jam
|
Tabel. Hasil Penetasan Artemia dengan perlakuan Dekapsulasi dan salinitas berbeda
- Pembahasan
1. Kultur Daphnia sp
Berdasarkan pengitungan populasi daphnia pada akhir kultur menunjukan peningkatan, dari penebaran awal 1600 ekor dapat mencapai 55.800 ekor pada akhir kultur. Pertumbuhan populasi daphnia yang diperoleh relative sedikit dikarenakan faktor cuaca yang tidak mendukung (kultur di musim hujan). Kultur daphnia di sistem out door ini sangat berpengaruh terhadap kualitas air kultur. Berdasarkan pengukuran kualitas air, suhu media kultur berkisar 21 23 ºC, pH 7,84 dan DO 3 ppm.
Untuk dapat hidup dengan baik daphnia sp memerlukan oksigen terlarut yang cukup besar yaitu diatas 3,5 ppm. Dalam budidaya daphnia sp sebaiknya pada wadah kultur diberi aerasi guna meningkatkan kandungan oksigen terlarut. Sama halnya dengan ikan, oksigen sangat diperlukan oleh daphnia untuk mendukung kehidupannya. Aerasi ini dapat digunakan pula untuk menetralkan chlor atau menghilangkan Carbondioksida didalam air. Biota air membutuhkan oksigen guna pembakaran makanan dalam tubuhnya untuk menghasilkan aktivitas seperti pertumbuhan dan reproduksi. Karena itu, kekurangan oksigen dalam air dapat mengganggu kehidupan biota air.
Pada kultur daphnia dilakukan pemupukan pada wadah budidaya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan phytoplankton di dalam wadah budidaya yang digunakan oleh daphnia sebagai makanannya agar dapat hidup dan berkembangbiak. Disamping sebagai pakan hidup, fitoplankton juga berfungsi sebagai penstabil lingkungan dalam media kultur. Pada kegiatan praktikum, fitoplankton tidak dapat tumbuh dengan baik pada media kultur daphnia, ini dipengaruhi oleh keadaan intensitas cahaya matahari yang sangat kurang dikarenakan oleh hujan yang terus menerus sepanjang hari.
Pada praktikum kultur daphnia dilakukan dengan sistem statis (batch) di luar ruangan (out door). Sistem ini paling mudah untuk dilakukan. Hanya saja sistem statis masih banyak kekurangan antara lain pengaruh lingkungan (cuaca) yang tidak stabil dan kontaminan yang tidak dapat diprediksikan seperti katak, berudu, larva chironomous, jentik nyamuk. Kehadiran kontaminan ini dapat mempengaruhi pertumbuhan daphnia yang di kultur terutama pada persaingan nutrisi dan oksigen terlarut bahkan sebagai predator.
2. Penetasan Cyste Artemia
Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi kista Artemia di media penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Proses penetasan terdiri dari beberapa tahapan yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam.
a. Proses penyerapan air
b. Pemecahan dinding cyste oleh embrio
c. Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran
d. Menetas dimana nauplius berenang bebas
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menetaskan cyste Artemia adalah:
· Suhu
· Kadar garam
· Kepadatan cyste
· Cahaya
· Aerasi
Agar diperoleh hasil penetasan yang baik maka oksigen terlarut di dalam air harus lebih dari 5 ppm. Untuk mencapai nilai tersebut dapat dilakukan dengan pengaerasian yang kuat. Disamping untuk meningkatkan oksigen, pengaerasian juga berguna agar cyste yang sedang ditetaskan tidak mengendap. Suhu sangat mempengaruhi lamanya waktu penetasan dan suhu optimal untuk penetasan Artemia adalah 26-29º C. Pada suhu dibawah 25º C Artemia akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetas dan pada suhu diatas 33º C dapat menyebabkan kematian cyste. Kadar 12 garam optimal untuk penetasan adalah antara 5 – 35 ppt, namun untuk keperluan praktis biasanya digunakan air laut (kadar garam antara 25–35 ppt). Nilai pH air harus dipertahankan pada nilai 8 agar diperoleh penetasan yang optimal. Adapun iluminasi pada saat penetasan sebaiknya 2000 lux.
Hal lain yang menentukan derajat penetasan cyste adalah kepadatan cyste yang akan ditetaskan. Pada penetasan skala kecil (volume < 20l) kepadatan cyste dapat mencapai 5 g per liter air. Akan tetapi pada skala yang lebih besar agar diperoleh daya tetas yang baik maka kepadatan harus diturunkan menjadi 2 g per liter air. Artemia akan menetas setelah 18-24 jam. Artemia yang sudah menetas dapat diketahui secara sederhana yakni dengan melihat perubahan warna di media penetasan. Artemia yang belum menetas pada umumnya berwarna cokelat muda, akan tetapi setelah menetas warna media berubah menjadi oranye. Warna oranye belum menjamin Artemia sudah menetas sempurna, oleh karena itu untuk meyakinkan bahwa Artemia sudah menetas secara sempurna disamping melihat perubahan warna juga dengan mengambil contoh Artemia dengan menggunakan beaker glass. Jika seluruh nauplius Artemia sudah berenang bebas maka itu menunjukkan penetasan selesai. Akan tetapi jika masih banyak yang terbungkus membran, maka harus ditunggu 1-2 jam agar semua Artemia menetas secara sempurna.
Kista menetas menjadi Artemia stadia nauplius. Setelah menetas sempurna, secara visual dapat terlihat terjadinya perubahan warna dari coklat muda menjadi oranye. Hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam pemanenan nauplius Artemia adalah jangan sampai tercampur antara Artemia dan cangkang. Hal ini perlu dihindari mengingat cangkang Artemia tersebut mengandung bahan organik yang dapat menjadi substrat perkembangbiakan bakteri. Setelah 18 jam dimasukandalam bak penetasan maka pengecekan apakah Artemia dalam wadah penetasan sudah menetas atau belum. Pengecekan dilakukan dengan cara mematikan aerasi. Sesaat setelah aerasi dimatikan, jika secara kasat mata keseluruhan nauplius sudah berenang bebas maka pemanenan dapat dilakukan dan aerasi tetap dimatikan. Jika sebagian besar nauplius masih terbungkus membran dan belum berenang bebas maka aerasi dihidupkan kembali. Selanjutnya 1 atau 2 jam kemudian dilakukan pengecekan ulang. Langkah awal pemanenan Artemia yaitu dengan mematikan aerasi serta menutup bagian atas wadah dengan bahan yang tidak tembus cahaya. Hal ini dilakukan dengan tujuan memisahkan antara nauplius dan cangkang Artemia. Cangkang Artemia akan mengambangdan berkumpul di permukaan air. Nauplius Artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena bagian bawah wadah tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius Artemia akan berkumpul di dasar wadah penetasan. Oleh karena itu pada saat pemanenan nauplius, sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu dari arah samping. Selain nauplius, didasar wadah juga akan terkumpul kista yang tidak menetas. Aerasi tetapdimatikan selama 10 menit. Setelah semua cangkang berkumpul di atas permukaan air dan terpisah dengan nauplius yang berada di dasar wadah maka pemanenan dapat dilakukan dengan cara membuka kran pada dasar wadah (jika ada) atau dengan cara menyipon dasar. Sebelum kran dibuka atau disipon, ujung kran atau selang kecil dibungkus saringan yang berukuran 125 mikron dan dibawah saringan disimpan wadah agar nauplius Artemia tetap berada dalam media air. Pada saat pemanenan hindarilah terbawanya cangkang. Artemia yang tersaring kemudian dibilas dengan air laut bersih dan siap diberikan ke larva ikan atau udang. Selanjutnya air dan cangkang yang tersisa di wadah penetasan dibuang dan dibersihkan.
3. Pengkayaan Artemia
Larva ikan sangat membutuhkan beberapa kandungan EPA dan DHA, sedangkan kandungan EPA danDHA dalam nauplius artemia biasanya kurang memadai untuk mendukung pertumbuhan larva. Mengingat sumber EPA dan DHA adalah minyak-minyak ikan maka berbagai jenis minyak yang ada di pasaran mengandung komposisi asam lemak sehingga dapat dan sering digunakan untuk memperkaya jasad pakan.
Kultur ragi roti dapat digunakan sebagai pakan rotifera, tetapi kualitas nutrisi yang dihasilkan sangat rendah bagi larva. Di Negara Jepang telah dikembangkan ragi-o yang diproses dengan penambahan minyak ikan. Ragi-o harus selalu disimpan dalam kondisi beku (suhu rendah) agar nilai nutrisinya tetap terjaga. Pemberian pakan tambahan ragi-o terhadap rotifera dan nauplius artemia sebelum diberikan kepada larva ikan telah meningkatkan kandungan EPA dan DHA dan telah dibukrikan meningkatkan kelangsungan hidup benih.
Penambahan scot emulsion dan kuning telur dalam pengkayaan artemia. Dilakukan untuk meningkatkan kualitas nutrisi. Minyak ikan tidak dapat diberikan langsung sebagai pakan kepada jasad pakan sehingga harus dicampur dengan bahan lain seperti bahan protein Telah ditemukan teknik untuk memperkaya gizi jasad pakan melalui pemberian pakan buatan dalam bentuk pelet mikro yang dikenal dengan microencapsulated diet (MCD). MCD adalah ransum pelet mikro yang dibuat dari bahan-bahan ramuan yang kaya energi.
Ragi omega (kiri) dan salah melalui proses emulsi. Kuning telur segar atau lesitin atau kasein dapat dimanfaatkan untuk mengemulsi minyak ikan. Emuisi tersebut dicampur dengan ragi kemudian diberi pakan kepada nauplius artemia beberapa jam sebelum diberikan kepada larva.
saru produk pellet mikro (kanan) untuk Pengkayaan gizii rotifera dan artemia dengan ukuran partikel sangat kecil disesuaikan dengan kebutuhan rotifera dan nauplius artemia. Susunan partikel-parrikel pelet mikromi dilapisi oleh suatu membran protein dan akan pecah oleh enzim pencernaan. Penggunaan MCD ini telah dibuktikan dapat meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan.
4. Dekapsulasi Artemia
Dekapsulasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan lapisan terluar dari kista artemia yang “keras” (korion). Proses ini dilakukan untuk mempermudah “bayi” artemia untuk keluar dari “sarang”nya. Dan kalaupun tidak berhasil “menetas”, kista yang telah didekapsulisasi masih bisa diberikan kepada ikan/burayak dengan aman, karena korionnya sudah hilang, sehingga akan dapat dicerna dengan mudah. Disamping itu proses ini juga sekaligus merupakan proses disinfeksi terhadap kontaminan seperti bakteri, jamur dll. Berikut merupakan keuntugan dekapsulasii artemia :
- Tidak perlu adanya pemisahan nauplius dari cangkang, karena chorion cyst sudah dihilangkan.
- Kandungan energi lebih tinggi karena tidak dipakai untuk proses penetasan.
- Cyst telah disucihamakan melalui larutan hipokhlorit. Dapat langsung digunakan untuk makanan larva.
- mengurangi jumlah tenaga kerja.

Penghilangan lapisan khorion yang sempuma hanya dapat dilakukan jika cyst berbentuk bulat. Untuk mendapatkan keadaan itu, cyst harus dibiarkan menggembung dengan cara hidrasi. Umumnya hidrasi penuh dapat tercapai setelah 1 – 2 jam dengan air tawar atau air laut (maksimal 35 permil) pada suhu 25°C.
Untuk perlakuan dekapsulasi, dapat digunakan larutan NaOCI atau Ca (OCl)2 yang lebih dikenal dengan kaporit. Jika NaOCI yang digunakan, maka Natrium dan OCl terionisasi dalam larutan dan terbentuk HOCl dalam air, sedangkan jika Ca (OCl)2 yang digunakan akan dihasilkan 2 ion OCl untuk setiap molekul hipokhlorit. Dapat dikatakan bahwa OCl berperan dalam khorion, tetapi hal ini masih belum pasti. Aktivitas dan konsentrasi maksimal adalah pada PH 10, dibandingkan pada PH rendah. 0,5 gram bahan aktifdan 14 ml larutan dekapsulasi diperlukan untuk dekapsulasi 1 gram cyst. Di banyak negara, Ca (OCl)2, lebih murah sebagai sumber khiorin aktifdaripada Na Ocl2 Ca (OCl)2 merupakan produk yang lebih stabil daripada Na OCl dan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Aktivitas Ca (OCl)2 biasanya tepat seperti yang dinyatakan dalam label dari produk komersial (umumnya 70 % bahan aktif).
Aktivitas larutan Na OCl dapat ditentukan dengan mengukur indeks refraktif pada refraktometer. Nilainya adalah :
Y = 3000 X- 4003
Y = Aktivitas Na OCl dalam gram per liter
X = Indeks refraktif.
Dengan Na OCl, 0, 15 gram NaOH teknis (0,33 ml, 40 % larutan) harus ditambahkan dalam tiap gram cyst untuk meningkatkan PH larutan dekapsulasi sampai sekitar 10. Jika yang digunakan Ca(OCl)2 maka 0,67 gram Na2CO3 atau 0,4 gram CaO harus dibuat dengan air laut 35 permil. Untuk Ca (OCl)2, yang digunakan adalah cairannya saja, dengan cara mencampurkannya dengan air laut, volume telah ditentukan dan diaerasi kuat selama sekitar 10 menit. Selanjutnya aerasi dimatikan dan suspensi dibiarkan mengendap serta cairan yang mengandung larutan Ca (OCl)2, dapat digunakan untuk dekapsulasi.
Setelah pemindahan cyst dalam larutan dekapsulasi, maka harus dipertahankan dalam keadaan suspensi dengan aerasi secara kontinu. Dalam beberapa menit mulai terjadi reaksi oksidasi eksotermik dan tumbuh busa. Sejalan dengan larutnya khorion, terjadi perubahan warna cyst, yaitu dari coklat tua ke abu-abu, kemudian oranye. Selama dekapsulasi, temperatur harus diperiksa secara teratur dan es harus ditambahkan untuk mencegah peningkatan temperatur di atas 40°C. Jika cyst dipertahankan dalam larutan dekapsulasi, akan membunuh embrio. Oleh karena itu, cyst harus dipindahkan segera dari larutan setelah proses selesai. Penyelesaian proses dapat dilakukan dengan pengamatan secara periodik setelah adanya perubahan warna dari cyst yang didekapsulasi.
Selama perlakuan, larutan dekapsulasi bereaksi terhadap khorion cyst. Akibat reaksi tersebut, terbentuk beberapa senyawa organokhiorin yang melekat pada cyst hasil dekapsulasi yang dapat mengurangi kualitas dan kegunaan cyst yang didekapsulasi. Oleh karena itu, setelah pencucian dapat ditambahkan 1 % Na2S203, sebanyak 0,5 ml/gram cyst sehingga membentuk persenyawaan yang larut dengan persenyawaan organokhlorin. Dengan demikian dapat menghilangkan sisa-sisa larutan dekapsulasi pada cyst tersebut.
Penampang luar dari cyste Artemia sering dikontaminasi dengan bakteri, jamur dan organisme pengganggu lainnya. Dekapsulasi sangat direkomendasikan sebagai prosedur disinfektan sebelum melakukan penetasan telur Artemia. Cangkang bagian luar yang disebut chorion tidak dapat dicerna dan sukar dipisahkan dari nauplii hanya dengan bilasan air. Jika tidak dilakukan, maka hal ini dapat mengakibatkan kematian larva dan benih ikan dan crustacean .
berdasarkan hasil praktikum didapat bahwa dengan perlakuan dekapsulasi menyebabkan waktu penetasan lebih cepat 4 jam dibandingkan tanpa dekapsulasi dengan salinitas air yang sama yakni 33 ppt. demikian juga daya tetas dengan perlakuan dekapsulasi juga memberi hasil yang lebih baik yakni 91 % sedangkan tanpa dekapsulasi hanya 81,55 %. Sementara perlakuan dekapsulasi dengan penetasan cyste pada salinitas 35 ppt waktu yang dibutuhkan untuk penetasan cyste artemia sama dengan perlakuan pada salinitas 33 ppt (dekapsulasi) yakni 14 jam dan daya tetas cyste 72%. Daya tetas yang rendah pada perlakuan salinitas 35 ppt disebabkan aerasi yang kurang lancar yang menyebabkan cyste artemi banyak mengendap sehingga terjadi penumpukan cyste dibawah yang menyebabkan cyste sulit menetas.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
- Daphnia sp Merupakan jenis zooplankton yang mudah dibudidayakan.
- Kultur Indoor memberi masalah dalam budidaya karena masih tergantung cuaca.
- Artemia merupakan pakan yang penting bagi organisme budidaya seperti ikan, udang dan kepiting. Hal ini disebabkan karena nilai nutrisi yang dikandungnya tinggi dan penggunaannya pun luas.
- Untuk mendapat hasil yang maksimal dalam penetasan artemia factor yang harus diperhatikan adalah kadar garam (tingkat salinitas) dan pemberian aerasi yang bertujuan untuk menghindari sedimentasi yang mempengaruhi daya tetas kista.
5. Pengkayaan sangat diperlukan untuk meningkatkan kandungan nutrisi Artemia sehingga mampu mendukung pertumbuhan larva ikan yang optimal.
- Dekapsulasi sangat berpengaruh terhadap penetasan artemia (lama penetasan dan hatching rate).
B. Saran
1. Dalam kegiatan praktikum harus lebih menekankan kedisiplinan sehingga proses praktikum dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Untuk peserta praktikum harus lebih kompak dalam bekerja sama secara berkelompok.
2. Hati-hati dalam menggunakan peralatan yang sensitif. Perhatikan prosedur operasionalnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ang, K.J.,A.T.Law, and S.H. Cheah. 1989. Nutrition and Culture of the Giant
Gouramy in the Floating Net Cages. Faculty of Fisheries and Marine
Science. University Pertanian. Malaysia. p. 45-56.
Djarijah, Abbas Siregar. 1995. Pakan Ikan Alami. Yogyakarta. Kanisius
Daphnia, dalam www.O-FISH.com
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid I. Direktorat Pembinaan SMK. Depdiknas
Ing Mokoginta, 2003. Modul Budidaya Daphnia (Direktorat Pendidikan
Menengah)
Jouncey, K. and B. Ross. 1982. A Guide to Tilapia Feeds and Feeding. Institut
of Aquaculture, University of Stirling. Scotland, 111 pp.
Ahmad Mudjiman, 2004. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jkarta.
Kontara, E. K., U. S. Sumeru, B. S. Ranumihardjo dan K. Mintardjo. 1987. Teknik Budidaya Artemia. INFISH.
Sumeru, S. U. 1984. Kualitas Penetasan, Dekapsulasi dan Teknik Produksi Biomassa Artemia. Balai Budidaya Air Payau. Jepara.