ruang duit… bisnis internet terlaris 2009

16 10 2009

http://ruangduit.com

menempati urutan 10 bisnis internet terlaris di search google.

www.ruangduit.com adalah sebuah komunitas bisnis internet di Indonesia yang sedang berkembang dengan CEPAT dalam membangun kesejahteraan dan kesuksesan bagi para membernya.

www.ruangduit.com bukan  merupakan bisnis MLM, bukan merupakan skema pyramid, bukan skema kaya mendadak, bukan money game, bukan arisan berantai atau sejenisnya, bukan program forex. Dan Smart Machine System bukan merupakan toko online yang menjual E-book atau sejenisnya. Namun www.ruangduit.com merupakan sebuah sarana yang memberikan akses kepada setiap orang untuk dapat mengikuti sebuah bisnis online dengan cara yang sangat simple, mudah, dan cepat tanpa harus membuat E-book atau membeli sebuah website, blog dan sejenisnya. System yang kami berikan bersifat Plug n Play atau dengan kata lain, system ini berjalan secara otomatis. Anda pasang softwarenya dan system ini bekerja untuk anda secara otomatis 24 jam nonstop.





19 08 2009

<script src=”http://kumpulblogger.com/dam.php?b=67332″ type=”text/javascript”>
</script>





mo sukses gak?????

19 08 2009

<script src=”http://kumpulblogger.com/sca.php?b=67332″ type=”text/javascript”></script>





13 04 2009

images1

LAPORAN PRAKTIKUM

BUDIDAYA PAKAN ALAMI

  1. Kultur Daphia sp (Daphnia sp) Water Fleas
  2. Penetasan, Pengkayaan, Dekapsulasi Artemia
  3. Kultur Chlorella sp Skala Lab.

OLEH

KEL IV

Agus Frikardo Saragih

D4 08 AK 030

Pvda2ROGRAM ALIH JENJANG DIPLOMA IV

KONSENTRASI AKUAKULTUR

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

JOINT PROGRAM PPPPTK PERTANIAN CIANJUR

DAN SEAMOLEC JAKARTA

2009

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam usaha budidaya ikan ada dua kegiatan yang sangat penting yaitu pembenihan ikan dan pembesaran ikan. Pembenihan ikan memegang peranan penting dalam pengembangan suatu usaha budidaya ikan. Salah satu faktor yang sangat berperan dalam menunjang keberhasilan suatu usaha pembenihan adalah ketersediaan pakan alami.

. Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar yang mendiami kolam-kolam, sawah dan perairan umum (danau) yang banyak mengandung bahan organik. Sebagai organisme air, Daphnia dapat hidup di perairan yang berkualitas baik. Beberapa faktor ekologi perairan yang berpengaruh terhadap perkembangbiakan Daphnia antara lain adalah kesadahan, suhu, oksigen terlarut dan pH.

Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias air tawar karena ukurannya yang sangat kecil. Disamping ukurannya yang kecil, nilai gizi Artemia juga sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan krustacea yang tumbuh dengan sangat cepat. Sampai saat ini Artemia sebagai pakan alami belum dapat digantikanoleh pakan lainnya. Artemia biasanya diperjual belikan dalam bentuk kista/cyste, sehingga sebagai pakan alami Artemia merupakan pakan yang paling mudah dan praktis, karena hanya tinggal menetaskan kista saja. Akan tetapi, menetaskan kista Artemia bukan suatu hal yangdengan begitu saja dapat dilakukan oleh setiap orang. Sebab membutuhkan suatu keterampilan dan pengetahuan tentang penetasan itu sendiri. Kegagalan dalam menetaskan kista Artemia barakibat fatal terhadap larva ikan yang sedang dipelihara.

B. Tujuan

  • Memampu mahasiswa melakukan kultur Massal Kutu Air (Daphnia sp), dan menganalisa faktor - faktor yang mempengaruhi.
  • Memampukan mahasiswa melakukan Penetasan, Pengkayaan, Dekpsulasi Artemia.
  • Mahasiswa mampu melakukan analisa terhadap keberhasian penetasan Cyste Artemia dan yang mempengaruhinya.
  • Mahasiswa mengetahui pengaruh pengkayaan Artemia terhadap pertumbuhan.
  • Mahasiswa mampu melakukan kultur Chlorella sp, skala laboratorium.

II.TINJAUAN PUSTAKA

A. Kutu Air (Daphnia sp)

Daphnia sp. adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar, mendiami kolam-kolam atau danau-danau. Daphnia sp. dapat hidup di daerah tropis dan subtropis. Kehidupan Daphnia sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor ekologi perairan antara lain: suhu, oksigen terlarut dan pH. Daphnia sp. dapat beradaptasi dengan baik pada perubahan lingkungan hidupnya dan termasuk dalam ketegori hewan eutitropik dan tahan terhadap fluktuasi suhu harian atau tahunan. Kisaran suhu yang dapat ditolerir bervariasi sesuai adaptasinya pada lingkungan tertentu.

Daphnia sp. dapat hidup dalam air yang kandungan oksigen terlarutnya sangat bervariasi yaitu dari hampir nol sampai lewat jenuh. Ketahanan Daphnia sp. pada perairan yang miskin oksigen mungkin disebabkan oleh kemampuannya dalam mensintesis haemoglobin. Dalam kenyataannya, laju pembentukan haemoglobin berhubungan dengan kandungan oksigen lingkungannya. Naiknya kandungan haemoglobin dalam darah Daphnia sp. dapat juga diakibatkan oleh naiknya temperatur, atau tingginya kepadatan populasi. Untuk dapat hidup dengan baik Daphnia sp. memerlukan oksigen terlarut yang cukup besar yaitu di atas 3,5 ppm.

Daphnia sp. hidup pada kisaran pH cukup besar, tetapi nilai pH yang optimal untuk kehidupannya sukar ditentukan. Lingkungan perairan yang netral dan relatif basah yaitu pada pH 7,1 – 8,0 baik untuk Budidaya Daphnia 16 pertumbuhannya. Pada kandungan amoniak antara 0,35 – 0,61 ppm, Daphnia sp. masih dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik. Di alam genus Daphnia mencapai lebih dari 20 spesies dan hidup pada berbagai jenis perairan tawar, terutama di daerah sub tropis.Daphnia sp. Sebagai hewan air, juga dikenal sebagai kutu air (= water fleas).

Daphnia sp. dapat diklasifikasikan dalam :


Philum : Arthropoda

Kelas : Crustacea

Sub Klas : Branchiopoda

Divisi : Oligobranchiopoda

Ordo : Cladocera

Famili : Daphnidae

Genus : Daphnia

Spesies : Daphnia sp.


Bentuk tubuh Daphnia sp. lonjong dan segmen badan tidak terlihat . Pada bagian ventral kepala terdapat paruh. Kepala mempunyai lima pasang apendik, yang pertama disebut antenna pertama, kedua disebut antenna kedua yang mempunyai fungsi utama sebagai alat gerak. Tiga pasang yang terakhir adalah bagian-bagian dari mulut. Tubuh ditutupi oleh cangkang dari kutikula yang mengandung khitin yang transparan, di bagian dorsal bersatu, tetapi dibagian ventral terbuka dan terdapat lima pasang kaki.

Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar yang mendiami kolam-kolam, sawah dan perairan umum (danau) yang banyak mengandung bahan organik. Sebagai organisme air, Daphnia dapat hidup di perairan yang berkualitas baik. Beberapa faktor ekologi perairan yang berpengaruh terhadap perkembangbiakan Daphnia antara lain adalah kesadahan, suhu, oksigen terlarut dan pH. Cara membudidayakan Daphnia dapat dilakukan dengan melakukan pemupukan pada wadah budidaya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan phytoplankton di dalam wadah budidaya yang digunakan oleh Daphnia sebagai makanannya agar tumbuh dan berkembangbiak. Pada budidaya Daphnia di kolam pupuk yang digunakan berupa kotoran ayam (kering) dengan dosis 1 kg/m2. Selain kotoran ayam, pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan kotoran burung puyuh. Dalam membudidayakan Daphnia sebaiknya wadah budidayanya diletakkan di ruang terbuka yang mendapat sinar matahari yang cukup dan sangat dibutuhkan untuk proses fotosintesa phytoplankton.Kedalaman air pada wadah budidaya Daphnia sebaiknya lebih dari 60 cm, agar Daphnia bisa terhindar dari intensitas cahaya matahari yang tinggi pada siang hari. Biasanya pada siang hari Daphnia akan berenang ke dasar wadah untuk menghindari intensitas cahaya dan suhu yang tinggi. Sebaliknya tingginya intensitas cahaya matahari akan merangsang phytoplankton untuk tumbuh cepat. Untuk menghindari meluapnya air pada saat hujan, sebaiknya wadah budidaya Daphnia diberi naungan dengan atap yang terbuat dari plastik/fiber yang transparan. Daphnia merupakan salah satu hewan yang sangat sensitif terhadap kontaminasi bahan kimia. Sebagai contoh apabila wadah budidayanya baru dibuat maka wadah tersebut harus direndam/dibilas dengan air sampai wadah tersebut tidak berbau. Untuk budidaya Daphnia, air yang digunakan sebaiknya memiliki kesadahan 250 mg/liter CO3 dan pH air dipertahankan sekitar 7 – 8 dengan cara dilakukan pengapuran di dalam wadah budidaya dengan kapur pertanian.

sebaiknya di dalam wadah budidaya Daphnia juga diberi aerator yang berfungsi untuk menghasilkan oksigen di dalam wadah budidaya agar nilai oksigen terlarut di wadah tersebut diatas 3,5 ppm dan kadar amonia kurang dari 0,2 mg/liter. Dari beberapa parameter kualitas air yang telah diuraikan sebelumnya dapat diketahui bahwa Daphnia memerlukan kualitas air yang prima untuk media hidupnya. Sama halnya dengan ikan, oksigen sangat diperlukan oleh Daphnia untuk mendukung kehidupannya, sedangkan amonia bersifat racun yang dapat mengakibatkan kematian. Untuk mempertahankan kondisi air selama masa budidaya agar tetap prima, maka air harus diaerasi secara kontinyu serta dilakukan pergantian air. Pergantian air pada media budidaya Daphnia dapat dilakukan dengan cara penyiponan, yaitu air didalam wadah budidaya dibuang dengan cara menggunakan selang. Pergantian air ini sangat bergantung kepada kebutuhan Daphnia di dalam media budidaya


Ruang antara cangkang dan tubuh bagian dorsal merupakan tempat pengeraman telur. Pada ujung post abdomen terdapat dua kuku yang berduri kecil-kecil. Pada habitat aslinya, Daphnia sp. Berkembangbiak secara parthenogenesis. Perbandingan jenis kelamin atau “sex ratio” pada Daphnidae menunjukkan keragaman dan tergantung pada

kondisi lingkungannya. Pada lingkungan yang baik, hanya terbentuk individu betina tanpa individu jantan. Pada kondisi ini, telur dierami didalam kantong pengeraman hingga menetas dan anak Daphnia sp. dikeluarkan pada waktu pergantian kulit. Didalam kondisi yang mulai memburuk, disamping individu betina dihasilkan individu jantan yang dapat mendominasi populasi dengan perbandingan 1 : 27. Dengan munculnya individu jantan, populasi yang bereproduksi secara seksual akan membentuk efipia atau “resting egg” disebut juga siste yang akan menetas jika kondisi perairan baik kembali. Terbentuknya telur-telur yang menghasilkan individu jantan dirangsang oleh :

  1. Melimpahnya individu betina yang mengakibatkan akumulasi hasil ekspresi
  2. Berkurangnya makanan yang tersedia
  3. Menurunnya suhu air dari 25-30 menjadi 14-17 derajat celcius

Kondisi-kondisi tersebut dapat mengubah metabolisme Daphnia sp. sehingga dapat mempengaruhi mekanisme kromosomnya. Di daerah tropis, Daphnia sp. yang didatangkan dari daerah subtropis seringkali juga membentuk efipia pada musim kemarau. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5 mm anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp. mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Pada lingkungan yang bersuhu antara 22 – 310C pH antara 6,6 – 7,4 Daphnia sp. sudah menjadi dewasa dalam waktu empat hari dengan umur yang dapat dicapai hanya 12 hari. Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan beranak 29 ekor. Jadi selama hidupnya hanya dapat beranak tujuh kali dengan jumlah yang dihasilkan 200 ekor.

Selama hidupnya Daphnia sp. mengalami empat periode yaitu telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas didalam ruang pengeraman. Setelah dua kali instar pertama, anak Daphnia sp. yang bentuknya mirip Daphnia sp. Dewasa dilepas dari ruang pengeraman. Jumlah instar pada stadium anak ini

hanya dua sampai lima kali, tetapi tingkat pertumbuhan tertinggi terjadi pada stadium ini.

Periode remaja adalah instar tunggal antara instar anak terakhir dan instar dewasa pertama. Pada periode ini sekelompok telur pertama mencapai perkembangan penuh di dalam ovarium. Segera setelah Daphnia sp. ganti kulit pada akhir instar remaja memasuki instar dewasa pertama, sekelompok telur pertama dilepaskan ke ruang pengeraman. Selama instar dewasa pertama, kelompok telur kedua berkembang di ovarium dan seterusnya. Namun adakalanya terdapat periode steril pada Daphnia sp. tua. Pertambahan panjang dan bobot Daphnia sp. selama pertumbuhan cukup pesat, terutama setelah ganti kulit. Selama instar anak terjadi pertumbuhan hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum ganti kulit.Sedangkan pertambahan volume terjadi dalam beberapa detik atau

menit sebelum eksoskeleton baru mengeras dan kehilangan elastisitasnya.

Pada akhir setiap instar Daphnia sp. dewasa terdapat peristiwa berurutan yang berlangsung cepat, biasanya terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam, yaitu :

(1) Lepasnya atau keluarnya anak dari ruang pengeraman;

(2) Ganti kulit (molting);

(3) Pertambahan ukuran;

(4) Lepasnya sekelompok telur baru ke ruang pengeraman;

B. Artemia sp

Artemia (brine shrimp) termasuk udang-udangan primitif. Artemia hidup planktonik di perairan yang berkadar garam tinggi, yaitu antara 15 – 300‰. Suhu yang dikehendaki berkisar antara 25 – 30ºC, oksigen terlarut 3 mg/l dan pH antara 7,3 – 8,4. Artemia adalah salah satu jenis krustasea tingkat rendah yang termasuk dalam filum : Arthropoda, kelas : Crustacea, bangsa : Anostraca, suku : Artemidae, marga : Artemia, jenis : Artemia salina.

Gambar 1. Artemia

Telur artemia yang kering atau kista berbentuk bulat cekung, berwarna coklat, berdiameter 200 – 300 mikron dan di dalamnya terdapat embrio yang tidak aktif. Nauplius artemia mempunyai tiga pasang anggota badan yakni antenna I yang berfungsi sebagai alat sensor, antena II berfungsi sebagai alat gerak atau penyaring pakan dan rahang bawah belum sempurna. Di bagian kepala antara ke dua antenna terdapat bintik merah (ocellus) yang berfungsi sebagai mata nauplius. Artemia dewasa berukuran 1 – 2 cm dengan sepasang mata majemuk dan 11 pasang thoracopoda. Setiap thoracopoda mempunyai eksopodit, endopodit dan epipodit yang masing-masing berfungsi sebagai alat pengumpul pakan, alat berenang dan alat pernapasan. Pada yang jantan, antenna II berkembang menjadi alat penjepit dan pada bagian belakang perut terdapat sepasang penis. Pada yang betina, antenna menjadi alat sensor dan pada kedua sisi saluran pencernaan terdapat sepasang ovari. Telur-telur yang telah masak dipindahkan dari ovari ke dalam sebuah kantong telur atau uterus (Sumeru, 1984).

Perkembangbiakan artemia ada dua cara, yakni parthenogenesis dan biseksual. Jenis biseksual tidak dapat berkembangbiak secara parthenogenesis dan juga sebaliknya. Pada jenis parthenogenesis, perkembangbiakan tidak melalui proses perkawinan. Pada jenis ini, induk betina akan beranak dengan sendirinya tanpa kawin. Apabila betina parthenogenesis dijodohkan dengan pejantan biseksual maka induk betina tersebut tetap tidak mau kawin (Ahmad Mudjiman, 2004). Artemia mengalami beberapa fase dalam daur hidupnya (Kontara dkk, 1987) yakni : kista, nauplius dan dewasa.

Prekopulasi pada artemia dimulai dengan jantan menjepit/mendekap betina dibagian antara uterus dan pasangan thoracopoda terakhir. Pasangan tersebut dapat berenang berkeliling selama 3 – 4 hari. Kopulasi terjadi sangat cepat dengan cara melingkarkan perut jantan ke dapan kemudian penis dimasukkan ke dalam lubang uterus dan telur dibuahi. Telur yang telah dibuahi pada umumnya berkembang menjadi nauplius yang berenang bebas atau bila kandungan oksigennya rendah dan salinitas tinggi, embrio hanya berkembang sampai stadium gastrula dan tersimpan sebagai kista. Seekor betina dapat menghasilkan 50 – 200 kista. Daur perkembangbiakan dengan selang waktu terpendek 4 hari.

Populasi artemia di alam terdapat di danau garam (perairan pantai atau darat yang banyak mengandung khlor, sulfat atau karbonat). Artemia mempunyai sistem osmoregulasi yang efisien, sehingga mampu beradaptasi pada kisaran salinitas yang luas, yakni 1 – 200%. Di samping itu artemia mampu mensintesis hemoglobin secara efisien untuk mengatasi kandungan oksigen rendah pada keadaan salinitas tinggi. Toleransinya terhadap suhu cukup luas, yaitu 6 – 35º C, suhu optimum berada pada kisaran 25 – 40º C (Kontara dkk, 1987)

Artemia dapat tumbuh cepat di perairan laut. Pada budidaya artemia dalam bak, hasil pertumbuhan terbaik dicapai pada salinitas 35‰. Artemia mempunyai sifat dapat tumbuh dengan baik pada kepadatan populasi yang tinggi dan dapat dibudidayakan dengan kepadatan 10.000 – 15.000 ekor nauplius per liter air laut. Artemia dapat tumbuh dari nauplius menjadi dewasa dalam waktu sekitar dua minggu dengan peningkatan panjang sekitar 5 kali (Kontara dkk, 1987).

Artemia termasuk jasad hidup penyaring pakan tidak selektif yang dapat memakan bahan dan jasad hidup dengan ukuran 1 – 5 mili mikron. Jenis pakan tersebut dapat berupa dedak, ragi, alga renik, bakteri, dan jasad renik lainnya.

Gambar 2. Kemasan cyste artemia

Artemia merupakan zooplankton yang diklasifikasikan ke dalam filum Arthropoda dan kelas Crustacea. Secara lengkap sistemarika artemia dapat dijelaskan sebagai berikut.


Filum                            : Arthropoda

Kelas                            : Crustacea

Subkelas                       : Branchiophoda

Ordo                             : Anostraca

Famili                           : Artemiidae

Genus                           : Artemia

Spesies                         : Artemia salina linn.


Nama Artemia sp. diberikan untuk pertama kali oleh Schlosser yang menemukannya di suatu danau asin pada tahun 1755. Kemudian oleh Linnaeus (1758) melengkapkan nama remik ini menjadi Artemia salira. karena daya toleransinya terhadap salinitas yang amat tinggi.

Selain spesies Artemia, salimi, ada beberapa spesies yang diberikan nama bagi strain zigogenerik, yaitu bila di dalam populasi bercampur antara spesies berina dan jantan. Nama-nama tersebut di antaranya Artemia tunisiana. Anemia franciscana, Anemia fersimilis, Artemia urmiana, dan Anemia monica. Namun demikian, nama Anemia salina atau disingkat artemia saja tetap umum digunakan. Nama ini pula yang digunakan dalam buku ini.

Ada pula populasi artemia yang hanya terdiri atas individu-individu betina saja.  Strain artemia demikian  dikenal dengan istilah partenogenetik karena berkembangbiak tanpa melalui perkawinan, tetapi artemia betina langsung saja bunting. Untuk strain ini juga hanya digunakan nama genus Artemia saja. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerancuan pemakaian istilah. Dengan demikian, pemakaian istilah artemia tidak memperhatikan jenis kelamin suatu populasi.

Sampai saat ini sudah dikenal lebih dari 50 strain artemia. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah san francisco bay, sack bay australia, chapin canada, macao, great salt lake, algues masters perancis, china, dan philippina. Pada prinsipnya perbedaan antara satu strain dengan strain lainnya terletak pada daya tetasnya, ukuran nauplius, ketahanan terhadap lingkungan, serta kebutuhan temperatur dan salinitas optimal.

Pada kemampuan daya penetasan, misalnya, pada beberapa strain perlu perlakuan-perlakuan khusus pada kista agar diperoleh embrio yang mampu berkembang dengan hasil yang memuaskan. Perlakukan tersebut misalnya berupa hibernasi (pendinginan) dan pelarutan ke dalam cairan peroksida.( http://ruly.blogdetik.com/2008/11/25/sifat-biologis-artemia/)

III. METODELOGI

  1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan.

Praktikum Kultur Pakan alami (Daphnia sp, Penetasan Artemia, Pengkayaan, dan Dekapsulasi Artemia ini dilaksanakan mulai 13 Februari hingga Pertengahan Maret 2009 Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK Pertanian Cianjur.

  1. Alat dan Bahan


1. Alat dan Bahan Kultur Daphnia sp


§ Wadah budidaya (bakbeton)

§ Sikat

§ Ember

§ DO meter

§ pH meter

Ø Aerator/blower

Ø Selang aerasi dan pemberat

Ø Meteran

Ø Air bersih/air kolam

Ø Pupuk kandang (kotoran ayam)


2. Alat dan Bahan Penetasan Cyste Artemia


    • Wadah penetasan
    • Blower
    • Selang aerasi dan batu aerasi
    • Sikat dan lam kasar
    • Selang air
    • Timbangan
    • Filter pasir
    • Deterjen
    • Garam tanpa yodium
    • Air tawar


3.Alat dan bahan Pengkayaan Artemia


· Galon penetasan artemia

· Blower aerasi

· Timbangan digital analitik

· Gelas ukur

· Refraktometer

· pH meter

· Thermometer

· Mikroskop

· Preparat

· Mangkok

· Sendok

· Akuarium

· Automatic water heater

· Ciste artemia

· Garam

· Air

· Minyak ikan

· Minyak jagung

· Kuning telur

· Ragi


  1. Alat dan bahan Dekapsulasi Artemia


· Galon penetasan artemia

· Blower aerasi

· Timbangan digital analitik

· Gelas ukur

· Refraktometer

· pH meter

· Thermometer

· Mikroskop

· Preparat

· Mangkok

· Sendok

· Akuarium

· Automatic water heater

· Ciste artemia

· Garam

· Air

· Minyak ikan

· Minyak jagung

· Kuning telur

· Ragi


  1. Prosedur Kerja

1. Kultur Daphnia sp

ü Menyiapakan alat dan bahan

ü Membersihkan wadah yang akan digunakan dengan cara menyikat wadah tersebut sampai bersih, kemudian bilas dengan air bersih dan keringkan.

ü Masukkan air bersih atau air kolam atau sumber air lainnya ke dalam wadah budidaya sampai kedalaman air 30 cm

ü Memasukkan pupuk kandang kedalam wadah budidaya 350 gr (volume air 600 liter (bak 1 x 2 x 0,3 cm). dalam wadah plastic yang dilubangi dan dberi pemberat dengan batu.

ü Tiga hari berikutnya induk Daphnia ditebar. ( jumlah populasi 1600 ekor volume air).

ü Hari yang ke-7 dilakukan pemupukan susulan ( penambahan pupuk kandang 200 gr)

ü Hari berikutnya dilakukan pengamatan pertumbuhan biomassa Daphnia hingga hari ke 13.

2. Penetasan Cyste Artemia

ü Siapkan alat dan bahan

ü Siapkan wadah penetasan Artemia

ü Isilah air sebanyak 5 l iter dan tambahkan garam hingga salinitas menjadi 28 ppt

ü Timbanglah Artemia sebanyak 2 gram

ü Masukkanlah Artemia ke wadah penetasan yang sudah terisi air laut dan diaerasi.

ü Diamkanlah selama 16-18 jam

ü Perhatikanlah warna media penetasan, jika sudah terjadi perubahan warna dari coklat muda ke oranye maka Artemia sudah menetas.

3.Pengkayaan Artemia

ü Menyiapkan akuarium dan media (bersihkan akuarium dan isi air tawar bersih dan dipasang aerasi)

ü Masukkan larva Bawal kedalam kedalam akuarium

ü Menyiapakan emulsi ( ragi 0,025 gr , minyak ikan 0,01 ml , kuning telur 0,01 ml, dilarutkan dalam air 100 ml

ü Hasil emulsi dimasukkan kedalam wadah kultur artemia

ü Setelah 6 – 8 jam diberikan pada larva ikan Bawal.

ü pemberian pakan artemia dilakukan dua kali sehari pagi diberi pakan artemia tanpa pengkayaan dan sore dengan pengkayaan dengan minyak ikan (scot emulsion)

ü Mengamati pertumbuhan artemia

ü Berat Larva

ü Panjang Larva

4. Dekapsulasi Artemia

o Menyiapkan wadah penetasan cyste artemia sebanyak 3 buah gallon.

o Masig – masing gallon diisi air sebanyak 5 liter dan tiap – tiap gallon ditambah garam tidak beryodium hingga salanitas masing – masing gallon 33 ppt, 33 ppt, 35 ppt

o Merendam artemia 2 gram dalam 100 air tawar selama 1 jam

o Membuatan larutan dekapsulasi 1 gram kaporit dan 0,3 gr NaCo3 / dicampur dalam air salinitas 33 ppt sebanyak 100 ml dan didinginkan dengan es batu dalam box sterefoam selama 60 menit.

o Rendam artemia dalam larutan dekapsulasi dan beri aerasi sampai larutan berubah warna mnjadi orange selama 15 menit.

o Bilas kista 6 kali dengan air tawar untuk menghilangkan bau kaporit.

o Kultur artemia dengan perlakuan

§ Artemia tanpa dekapsulasi pada salinitas 33 ppt

§ Artemia yang telah didekapsulasi pada salinitas 33 ppt

§ Artemia yang telah di dekapsulasi pada salinitas 35 ppt

o Amati lama waktu penetasan kista artemia dan menghitung daya tetas kista artemia

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil

1. Kultur Daphnia sp

Padat penebaran awal 2 individu/liter air x 600 liter = 1600 individu

a. Menghitung Kelimpahan

NO.

Tanggal

∑ = X/L

∑ = X/600L

Suhu

1.

09 Februari 2009

6 ekor

3600 ekor

220C

2.

10 Februari 2009

13 ekor

3900 ekor

220C

3.

11 Februari 2009

24 ekor

14400 ekor

230C

4.

12 Februari 2009

46 ekor

27600 ekor

220C

5.

13 Februari 2009

93 ekor

55800 ekor

230C

CATATAN:

= Jumlah

X = Daphnia

L = Liter

b. Grafik pertumbuhan


2. Penetasan Cyste Artemia

· Jumlah kista yang digunakan seberat 2 gram (276.345 Butir cyste)

· Jumlah garam digunakan seberat 196 gram untuk mengubah salinitas air menjadi 28 ppt dan air sebanyak 5 liter.

· Jumlah Cyste yang menetas 231.340 ekor

· Persentase daya tetas = 231.340/ 276.345 X 100% = 83,71%

a. Pengamatan hari pertama (17.02.09)

Jam

Salinitas

Suhu

Panjang Naupli

Gambar

08.00

28 PPt

300C

-

b. Pengamatan hari kedua (18.02.09)

Jam

Salinitas

Suhu

Panjang Naupli

Gambar

08.00

28 PPt

310C

-

c. Pengamatan hari ketiga (19.02.09)

Jam

Salinitas

Suhu

Panjang Naupli

Gambar

08.00

28 PPt

290C

-

d. Pengamatan hari ke empat (20.02.09)

Jam

Salinitas

Suhu

Panjang Naupli

Gambar

08.00

28 PPt

300C

-

e. Pengamatan hari ke lima (21.02.09)

Jam

Salinitas

berat

Panjang

Gambar

08.00

28 PPt

300C

-

3. Pengkayaan Artemia

Berat larva awal 0,0015 gram/ekor

Berat larva pada hari ke tiga = 0,0025 gram/ekor

Berat larva pada hari ke lima = 0,0030 gram /ekor

Panjang Larva awal = 0,52 Cm

Panjang larva pada hari ke tiga = 0,61

Panjang larva pada hari ke Lima = 0,65

4. Dekapsulasi Artemia

Lama penetasan :

Salinitas 33 ppt tanpa dekapsulasi selama 18 jam

Salinitas 33 ppt dekpasulasi selama 14 jam

Salinitas 35 ppt dekapsulasi selama 14 jam

Daya tetas :

Salinitas 33 ppt

Jumlah cyste artemia yang ditetaskan 269.741 butir

Larva ( Kista yang menetas ) sebanyak 220.000

Daya tetas = 220.000 / 269741 X 100% = 81, 55 %

Dengan Dekapsulasi salinitas 33 ppt

( jumlah telur yang ditebar) 225.000 butir

Kista yang menetas 205.000 ekor

Persentase daya tetas ­ = 205.000/ 225.000 x 100% = 91 %

Dekapsulasi salinitas 35 ppt

Jumlah telur yang ditebar = 289.120 butir

Kista yang menetas = 210.000 ekor

Persentase daya tetas = 210.000/ 289.120 x 100% = 72 %

Perlakuan

Jumlah cyste yang ditebar

Naupli Artemia

Persentase daya tetas

Lama penetasan

Salinitas 33 ppt

269.741 butir

220.000 ekor

81,55%

18 Jam

Salinitas 33 ppt, dan perlakuan Dekapsulasi

225.000 butir

205.000 ekor

91%

14 Jam

Salinitas 35 ppt dan perlakuan dekapsulasi

289.120 butir

210.000 ekor

72%

14 Jam

Tabel. Hasil Penetasan Artemia dengan perlakuan Dekapsulasi dan salinitas berbeda

  1. Pembahasan

1. Kultur Daphnia sp

Berdasarkan pengitungan populasi daphnia pada akhir kultur menunjukan peningkatan, dari penebaran awal 1600 ekor dapat mencapai 55.800 ekor pada akhir kultur. Pertumbuhan populasi daphnia yang diperoleh relative sedikit dikarenakan faktor cuaca yang tidak mendukung (kultur di musim hujan). Kultur daphnia di sistem out door ini sangat berpengaruh terhadap kualitas air kultur. Berdasarkan pengukuran kualitas air, suhu media kultur berkisar 21 23 ºC, pH 7,84 dan DO 3 ppm.

Untuk dapat hidup dengan baik daphnia sp memerlukan oksigen terlarut yang cukup besar yaitu diatas 3,5 ppm. Dalam budidaya daphnia sp sebaiknya pada wadah kultur diberi aerasi guna meningkatkan kandungan oksigen terlarut. Sama halnya dengan ikan, oksigen sangat diperlukan oleh daphnia untuk mendukung kehidupannya. Aerasi ini dapat digunakan pula untuk menetralkan chlor atau menghilangkan Carbondioksida didalam air. Biota air membutuhkan oksigen guna pembakaran makanan dalam tubuhnya untuk menghasilkan aktivitas seperti pertumbuhan dan reproduksi. Karena itu, kekurangan oksigen dalam air dapat mengganggu kehidupan biota air.

Pada kultur daphnia dilakukan pemupukan pada wadah budidaya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan phytoplankton di dalam wadah budidaya yang digunakan oleh daphnia sebagai makanannya agar dapat hidup dan berkembangbiak. Disamping sebagai pakan hidup, fitoplankton juga berfungsi sebagai penstabil lingkungan dalam media kultur. Pada kegiatan praktikum, fitoplankton tidak dapat tumbuh dengan baik pada media kultur daphnia, ini dipengaruhi oleh keadaan intensitas cahaya matahari yang sangat kurang dikarenakan oleh hujan yang terus menerus sepanjang hari.

Pada praktikum kultur daphnia dilakukan dengan sistem statis (batch) di luar ruangan (out door). Sistem ini paling mudah untuk dilakukan. Hanya saja sistem statis masih banyak kekurangan antara lain pengaruh lingkungan (cuaca) yang tidak stabil dan kontaminan yang tidak dapat diprediksikan seperti katak, berudu, larva chironomous, jentik nyamuk. Kehadiran kontaminan ini dapat mempengaruhi pertumbuhan daphnia yang di kultur terutama pada persaingan nutrisi dan oksigen terlarut bahkan sebagai predator.

2. Penetasan Cyste Artemia

Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi kista Artemia di media penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Proses penetasan terdiri dari beberapa tahapan yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam.

a. Proses penyerapan air

b. Pemecahan dinding cyste oleh embrio

c. Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran

d. Menetas dimana nauplius berenang bebas

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menetaskan cyste Artemia adalah:

· Suhu

· Kadar garam

· Kepadatan cyste

· Cahaya

· Aerasi

Agar diperoleh hasil penetasan yang baik maka oksigen terlarut di dalam air harus lebih dari 5 ppm. Untuk mencapai nilai tersebut dapat dilakukan dengan pengaerasian yang kuat. Disamping untuk meningkatkan oksigen, pengaerasian juga berguna agar cyste yang sedang ditetaskan tidak mengendap. Suhu sangat mempengaruhi lamanya waktu penetasan dan suhu optimal untuk penetasan Artemia adalah 26-29º C. Pada suhu dibawah 25º C Artemia akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetas dan pada suhu diatas 33º C dapat menyebabkan kematian cyste. Kadar 12 garam optimal untuk penetasan adalah antara 5 – 35 ppt, namun untuk keperluan praktis biasanya digunakan air laut (kadar garam antara 25–35 ppt). Nilai pH air harus dipertahankan pada nilai 8 agar diperoleh penetasan yang optimal. Adapun iluminasi pada saat penetasan sebaiknya 2000 lux.

Hal lain yang menentukan derajat penetasan cyste adalah kepadatan cyste yang akan ditetaskan. Pada penetasan skala kecil (volume < 20l) kepadatan cyste dapat mencapai 5 g per liter air. Akan tetapi pada skala yang lebih besar agar diperoleh daya tetas yang baik maka kepadatan harus diturunkan menjadi 2 g per liter air. Artemia akan menetas setelah 18-24 jam. Artemia yang sudah menetas dapat diketahui secara sederhana yakni dengan melihat perubahan warna di media penetasan. Artemia yang belum menetas pada umumnya berwarna cokelat muda, akan tetapi setelah menetas warna media berubah menjadi oranye. Warna oranye belum menjamin Artemia sudah menetas sempurna, oleh karena itu untuk meyakinkan bahwa Artemia sudah menetas secara sempurna disamping melihat perubahan warna juga dengan mengambil contoh Artemia dengan menggunakan beaker glass. Jika seluruh nauplius Artemia sudah berenang bebas maka itu menunjukkan penetasan selesai. Akan tetapi jika masih banyak yang terbungkus membran, maka harus ditunggu 1-2 jam agar semua Artemia menetas secara sempurna.

Kista menetas menjadi Artemia stadia nauplius. Setelah menetas sempurna, secara visual dapat terlihat terjadinya perubahan warna dari coklat muda menjadi oranye. Hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam pemanenan nauplius Artemia adalah jangan sampai tercampur antara Artemia dan cangkang. Hal ini perlu dihindari mengingat cangkang Artemia tersebut mengandung bahan organik yang dapat menjadi substrat perkembangbiakan bakteri. Setelah 18 jam dimasukandalam bak penetasan maka pengecekan apakah Artemia dalam wadah penetasan sudah menetas atau belum. Pengecekan dilakukan dengan cara mematikan aerasi. Sesaat setelah aerasi dimatikan, jika secara kasat mata keseluruhan nauplius sudah berenang bebas maka pemanenan dapat dilakukan dan aerasi tetap dimatikan. Jika sebagian besar nauplius masih terbungkus membran dan belum berenang bebas maka aerasi dihidupkan kembali. Selanjutnya 1 atau 2 jam kemudian dilakukan pengecekan ulang. Langkah awal pemanenan Artemia yaitu dengan mematikan aerasi serta menutup bagian atas wadah dengan bahan yang tidak tembus cahaya. Hal ini dilakukan dengan tujuan memisahkan antara nauplius dan cangkang Artemia. Cangkang Artemia akan mengambangdan berkumpul di permukaan air. Nauplius Artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena bagian bawah wadah tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius Artemia akan berkumpul di dasar wadah penetasan. Oleh karena itu pada saat pemanenan nauplius, sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu dari arah samping. Selain nauplius, didasar wadah juga akan terkumpul kista yang tidak menetas. Aerasi tetapdimatikan selama 10 menit. Setelah semua cangkang berkumpul di atas permukaan air dan terpisah dengan nauplius yang berada di dasar wadah maka pemanenan dapat dilakukan dengan cara membuka kran pada dasar wadah (jika ada) atau dengan cara menyipon dasar. Sebelum kran dibuka atau disipon, ujung kran atau selang kecil dibungkus saringan yang berukuran 125 mikron dan dibawah saringan disimpan wadah agar nauplius Artemia tetap berada dalam media air. Pada saat pemanenan hindarilah terbawanya cangkang. Artemia yang tersaring kemudian dibilas dengan air laut bersih dan siap diberikan ke larva ikan atau udang. Selanjutnya air dan cangkang yang tersisa di wadah penetasan dibuang dan dibersihkan.

3. Pengkayaan Artemia

Larva ikan sangat membutuhkan beberapa kandungan EPA dan DHA, sedangkan kandungan EPA danDHA dalam nauplius artemia biasanya kurang memadai untuk mendukung pertumbuhan larva. Mengingat sumber EPA dan DHA adalah minyak-minyak ikan maka berbagai jenis minyak yang ada di pasaran mengandung komposisi asam lemak sehingga dapat dan sering digunakan untuk memperkaya jasad pakan.

Kultur ragi roti dapat digunakan sebagai pakan rotifera, tetapi kualitas nutrisi yang dihasilkan sangat rendah bagi larva. Di Negara Jepang telah dikembangkan ragi-o yang diproses dengan penambahan minyak ikan. Ragi-o harus selalu disimpan dalam kondisi beku (suhu rendah) agar nilai nutrisinya tetap terjaga. Pemberian pakan tambahan ragi-o terhadap rotifera dan nauplius artemia sebelum diberikan kepada larva ikan telah meningkatkan kandungan EPA dan DHA dan telah dibukrikan meningkatkan kelangsungan hidup benih.

Penambahan scot emulsion dan kuning telur dalam pengkayaan artemia. Dilakukan untuk meningkatkan kualitas nutrisi. Minyak ikan tidak dapat diberikan langsung sebagai pakan kepada jasad pakan sehingga harus dicampur dengan bahan lain seperti bahan protein Telah ditemukan teknik untuk memperkaya gizi jasad pakan melalui pemberian pakan buatan dalam bentuk pelet mikro yang dikenal dengan microencapsulated diet (MCD). MCD adalah ransum pelet mikro yang dibuat dari bahan-bahan ramuan yang kaya energi.

Ragi omega (kiri) dan salah melalui proses emulsi. Kuning telur segar atau lesitin atau kasein dapat dimanfaatkan untuk mengemulsi minyak ikan. Emuisi tersebut dicampur dengan ragi kemudian diberi pakan kepada nauplius artemia beberapa jam sebelum diberikan kepada larva.

saru produk pellet mikro (kanan) untuk Pengkayaan gizii rotifera dan artemia dengan ukuran partikel sangat kecil disesuaikan dengan kebutuhan rotifera dan nauplius artemia. Susunan partikel-parrikel pelet mikromi dilapisi oleh suatu membran protein dan akan pecah oleh enzim pencernaan. Penggunaan MCD ini telah dibuktikan dapat meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan.

4. Dekapsulasi Artemia

Dekapsulasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan lapisan terluar dari kista artemia yang “keras” (korion). Proses ini dilakukan untuk mempermudah “bayi” artemia untuk keluar dari “sarang”nya. Dan kalaupun tidak berhasil “menetas”, kista yang telah didekapsulisasi masih bisa diberikan kepada ikan/burayak dengan aman, karena korionnya sudah hilang, sehingga akan dapat dicerna dengan mudah. Disamping itu proses ini juga sekaligus merupakan proses disinfeksi terhadap kontaminan seperti bakteri, jamur dll. Berikut merupakan keuntugan dekapsulasii artemia :

  • Tidak perlu adanya pemisahan nauplius dari cangkang, karena chorion cyst sudah dihilangkan.
  • Kandungan energi lebih tinggi karena tidak dipakai untuk proses penetasan.
  • Cyst telah disucihamakan melalui larutan hipokhlorit. Dapat langsung digunakan untuk makanan larva.
  • mengurangi jumlah tenaga kerja.



Penghilangan lapisan khorion yang sempuma hanya dapat dilakukan jika cyst berbentuk bulat. Untuk mendapatkan keadaan itu, cyst harus dibiarkan menggembung dengan cara hidrasi. Umumnya hidrasi penuh dapat tercapai setelah 1 – 2 jam dengan air tawar atau air laut (maksimal 35 permil) pada suhu 25°C.

Untuk perlakuan dekapsulasi, dapat digunakan larutan NaOCI atau Ca (OCl)2 yang lebih dikenal dengan kaporit. Jika NaOCI yang digunakan, maka Natrium dan OCl terionisasi dalam larutan dan terbentuk HOCl dalam air, sedangkan jika Ca (OCl)2 yang digunakan akan dihasilkan 2 ion OCl untuk setiap molekul hipokhlorit. Dapat dikatakan bahwa OCl berperan dalam khorion, tetapi hal ini masih belum pasti. Aktivitas dan konsentrasi maksimal adalah pada PH 10, dibandingkan pada PH rendah. 0,5 gram bahan aktifdan 14 ml larutan dekapsulasi diperlukan untuk dekapsulasi 1 gram cyst. Di banyak negara, Ca (OCl)2, lebih murah sebagai sumber khiorin aktifdaripada Na Ocl2 Ca (OCl)2 merupakan produk yang lebih stabil daripada Na OCl dan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Aktivitas Ca (OCl)2 biasanya tepat seperti yang dinyatakan dalam label dari produk komersial (umumnya 70 % bahan aktif).

Aktivitas larutan Na OCl dapat ditentukan dengan mengukur indeks refraktif pada refraktometer. Nilainya adalah :

Y = 3000 X- 4003

Y = Aktivitas Na OCl dalam gram per liter

X = Indeks refraktif.

Dengan Na OCl, 0, 15 gram NaOH teknis (0,33 ml, 40 % larutan) harus ditambahkan dalam tiap gram cyst untuk meningkatkan PH larutan dekapsulasi sampai sekitar 10. Jika yang digunakan Ca(OCl)2 maka 0,67 gram Na2CO3 atau 0,4 gram CaO harus dibuat dengan air laut 35 permil. Untuk Ca (OCl)2, yang digunakan adalah cairannya saja, dengan cara mencampurkannya dengan air laut, volume telah ditentukan dan diaerasi kuat selama sekitar 10 menit. Selanjutnya aerasi dimatikan dan suspensi dibiarkan mengendap serta cairan yang mengandung larutan Ca (OCl)2, dapat digunakan untuk dekapsulasi.

Setelah pemindahan cyst dalam larutan dekapsulasi, maka harus dipertahankan dalam keadaan suspensi dengan aerasi secara kontinu. Dalam beberapa menit mulai terjadi reaksi oksidasi eksotermik dan tumbuh busa. Sejalan dengan larutnya khorion, terjadi perubahan warna cyst, yaitu dari coklat tua ke abu-abu, kemudian oranye. Selama dekapsulasi, temperatur harus diperiksa secara teratur dan es harus ditambahkan untuk mencegah peningkatan temperatur di atas 40°C. Jika cyst dipertahankan dalam larutan dekapsulasi, akan membunuh embrio. Oleh karena itu, cyst harus dipindahkan segera dari larutan setelah proses selesai. Penyelesaian proses dapat dilakukan dengan pengamatan secara periodik setelah adanya perubahan warna dari cyst yang didekapsulasi.

Selama perlakuan, larutan dekapsulasi bereaksi terhadap khorion cyst. Akibat reaksi tersebut, terbentuk beberapa senyawa organokhiorin yang melekat pada cyst hasil dekapsulasi yang dapat mengurangi kualitas dan kegunaan cyst yang didekapsulasi. Oleh karena itu, setelah pencucian dapat ditambahkan 1 % Na2S203, sebanyak 0,5 ml/gram cyst sehingga membentuk persenyawaan yang larut dengan persenyawaan organokhlorin. Dengan demikian dapat menghilangkan sisa-sisa larutan dekapsulasi pada cyst tersebut.

Penampang luar dari cyste Artemia sering dikontaminasi dengan bakteri, jamur dan organisme pengganggu lainnya. Dekapsulasi sangat direkomendasikan sebagai prosedur disinfektan sebelum melakukan penetasan telur Artemia. Cangkang bagian luar yang disebut chorion tidak dapat dicerna dan sukar dipisahkan dari nauplii hanya dengan bilasan air. Jika tidak dilakukan, maka hal ini dapat mengakibatkan kematian larva dan benih ikan dan crustacean .

berdasarkan hasil praktikum didapat bahwa dengan perlakuan dekapsulasi menyebabkan waktu penetasan lebih cepat 4 jam dibandingkan tanpa dekapsulasi dengan salinitas air yang sama yakni 33 ppt. demikian juga daya tetas dengan perlakuan dekapsulasi juga memberi hasil yang lebih baik yakni 91 % sedangkan tanpa dekapsulasi hanya 81,55 %. Sementara perlakuan dekapsulasi dengan penetasan cyste pada salinitas 35 ppt waktu yang dibutuhkan untuk penetasan cyste artemia sama dengan perlakuan pada salinitas 33 ppt (dekapsulasi) yakni 14 jam dan daya tetas cyste 72%. Daya tetas yang rendah pada perlakuan salinitas 35 ppt disebabkan aerasi yang kurang lancar yang menyebabkan cyste artemi banyak mengendap sehingga terjadi penumpukan cyste dibawah yang menyebabkan cyste sulit menetas.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

  1. Daphnia sp Merupakan jenis zooplankton yang mudah dibudidayakan.
  2. Kultur Indoor memberi masalah dalam budidaya karena masih tergantung cuaca.
  3. Artemia merupakan pakan yang penting bagi organisme budidaya seperti ikan, udang dan kepiting. Hal ini disebabkan karena nilai nutrisi yang dikandungnya tinggi dan penggunaannya pun luas.
  4. Untuk mendapat hasil yang maksimal dalam penetasan artemia factor yang harus diperhatikan adalah kadar garam (tingkat salinitas) dan pemberian aerasi yang bertujuan untuk menghindari sedimentasi yang mempengaruhi daya tetas kista.

5. Pengkayaan sangat diperlukan untuk meningkatkan kandungan nutrisi Artemia sehingga mampu mendukung pertumbuhan larva ikan yang optimal.

  1. Dekapsulasi sangat berpengaruh terhadap penetasan artemia (lama penetasan dan hatching rate).

B. Saran

1. Dalam kegiatan praktikum harus lebih menekankan kedisiplinan sehingga proses praktikum dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Untuk peserta praktikum harus lebih kompak dalam bekerja sama secara berkelompok.

2. Hati-hati dalam menggunakan peralatan yang sensitif. Perhatikan prosedur operasionalnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ang, K.J.,A.T.Law, and S.H. Cheah. 1989. Nutrition and Culture of the Giant

Gouramy in the Floating Net Cages. Faculty of Fisheries and Marine

Science. University Pertanian. Malaysia. p. 45-56.

Djarijah, Abbas Siregar. 1995. Pakan Ikan Alami. Yogyakarta. Kanisius

Daphnia, dalam www.O-FISH.com

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid I. Direktorat Pembinaan SMK. Depdiknas

Ing Mokoginta, 2003. Modul Budidaya Daphnia (Direktorat Pendidikan

Menengah)

Jouncey, K. and B. Ross. 1982. A Guide to Tilapia Feeds and Feeding. Institut

of Aquaculture, University of Stirling. Scotland, 111 pp.

Ahmad Mudjiman, 2004. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jkarta.

Kontara, E. K., U. S. Sumeru, B. S. Ranumihardjo dan K. Mintardjo. 1987. Teknik Budidaya Artemia. INFISH.

Sumeru, S. U. 1984. Kualitas Penetasan, Dekapsulasi dan Teknik Produksi Biomassa Artemia. Balai Budidaya Air Payau. Jepara.





budidaya artemia

27 03 2009

Tiga hal yang tidak pernah bisa dikembalikan

kata yang telah diucapkan……………

waktu yang telah berlalu………………..

momentum yang diabaikan





3 03 2009




17 02 2009

PENGUKURAN KUALITAS AIR (PARAMETER FISIKA)

SUHU, KECERAHAN DAN WARNA AIR

Di Kolam Induk Patin (Pangasius sp)

Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK Pertanian Cianjur.

LAPORAN PRAKTIKUM

images vda

OLEH: AGUS FRIKARDO SARAGIH, A.Md

PROGRAM ALIH JENJANG DIPLOMA IV

KONSENTRASI BUDIDAYA PERAIRAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

JOINT PROGRAM PPPPTK PERTANIAN CIANJUR DAN SEAMOLEC

2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas petunjuk_Nya kepada penulis sehingga laporan ini bisa dirampungkan. Tulisan ini berjudul Laporan praktikum Pengamatan Kualitas air (Parameter Fisika) yang meliputi suhu, warna, dan kecerahan. Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui kondisi air kultur yang terdapat di Kolam PPPPTK Pertanian Cianjur, yang selanjutnya dianalisa kelayakannya dan factor – factor yang mempengaruhi khususnya parameter fisika seperti suhu, kecerahan, dan warna air kolam.

Terima kasih yang tak terhingga, penulis ucapkan kepada

  1. Bapak. Gede Syuantika, dosen mata kuliah teknologi pengelolaan kualitas air.
  2. Ibu Magdalena Lenny S, dosen mata kuliah teknologi pengelolaan kualitas air.
  3. Ibu Intan Rahima Sari. Pembimbing praktikum Teknologi pengelolaan kualitas air
  4. Teman D4 akuakultur Program Diploma IV Alih Jenjang.

Tidak ada yang sempurna. Sadar masih banyak kekurangan, penulis memohon kepada semua pihak berkenan memberi masukan dan bimbingan.

Cianjur, Februari 2009

Penulis.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kegiatan budidaya ikan mutlak dilakukan di media air baik dikolam, tambak. Untuk itu persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah standar baku mutu air yang layak untuk budidaya. Air yang telah digunakan kegiatan budidaya cenderung mengalami penurun kualitas air. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan air budidaya yang bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang optimal bagi ikan agar tetap bisa hidup dan tumbuh maksimal. Parameter kualitas air merupakan pembatas terhadap jenis biota air yang dibudidayakan. Selain itu lingkungan budidaya juga terkait dengan kondisi alam. Oleh karena itu parameter kualitas air yang meliputi Fisika, kimia, dan biologi harus tetap dikontrol dan dijaga supaya tetap berada pada kisaran toleransi. Parameter fisika seperti suhu, kecerahan dan warna air .

Pengukuran kualitas air merupakan kegiatan mutlak yang harus dilakukan secara berkala. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi media kultur. Pengetahuan teknik dan pengalaman mengukur merupakan factor pembatas keberhasilan mengetahui kualitas air.

Nilai Kualitas air yang didapat harus diyakini mampu mencerminkan kualitas air kolam yang diukur. Dengan demikian dapat diperoleh nilai kualitas air kolam, sehingga dapat dilakukan penanganan, atau pengelolaan air dikala parameter kualitas air sedang menurun.

B. Tujuan

adapun tujuan praktikum ini adalah :

1. Memampukan mahasiswa melakukan pengukuran kualitas air (parameter fisika; suhu, warna dan kecerahan)

2. Mengetahui nilai kualitas air kolam dan mampu membuat analisa penyebab/ factor – factor yang mempengaruhi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecerahan

Kecerahan adalah sebagaian cahaya yang diteruskan ke dalam air dan dinyatakan dengan persen, dari beberapa panjang gelombang di daerah spectrum yang terlihat cahaya yang melalui lapisan sekitar satu meter, jatuh agak lurus pada permukaan air. Kemampuan cahaya matahari untuk menembus sampai dasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (turbidity) air. Kekeruhan dipengaruhi oleh : M. Ghufran H. Kordik K, Pengelolaan Kualitas air, 2007 hal 55)

1. Benda – benda halus yang disuspensikan.

2. Jasad – jasad renik (plankton)

3. Warna air.

Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, dapat mengetahui samapi dimana masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air. Kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan oleh jasad – jasad renik atau plankton, kekeruhan mencerminkan jumlah indidviu plankton yang melayang dan selalu mengikuti gerak air.

Untuk memberikan media yang baik bagi biota yang dipelihara, sebaiknya air yang digunakan cukup jernih, tidak banyak membawa partikel organic maupun anorganik. Kekeruhan yang berkaitan dengan partikel – partikel anorganik dapat dikurangi dengan penyaringan atau bak pengendapan.

Kecerahan adalah parameter fisika yang erat kaitannya dengar budidayan proses fotosintesis pada suatu ekosistem perairan. Kecerahan yang tinggi menunjukkan daya tembus cahaya matahari yang jauh ke dalam perairan. Begitu juga sebaliknya

Kecerahan air kolam merupakan tingkat penetrasi cahaya matahari di dalam air kolam yang dinyatakan dengan satuan panjang. Alat yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kecerahan air tambak adalah secchi disk, yaitu berupa piringan yang diberi warna hitam putih dan dihubungkan dengan tongkat/tali pegangan yang mempunyai garis-garis skala. Cara penggunaan alat ini adalah dengan mencelupkannya ke dalam perairan secara perlahan sampai pada kedalam dimana seichi disk mulai tidak kelihatan, kemudian tingkat kecerahan air dapat terbaca pada skala yang telah ada. Pengukuran kecerahan air sebaiknya dilakukan pada saat siang hari dan cuaca relatif cerah.

Gambar 1. Secci disk


Pada perairan kecerahan air erat hubungannya dan berbanding terbalik dengan kelimpahan plankton terutama jenis phytoplankton yang berada di dalam perairan tersebut, atau dengan kata lain semakin tinggi tingkat kecerahan air maka kelimpahan phytoplankton akan semakin rendah dan sebaliknya semakin rendah tingkat kecerahan air maka kelimpahan phytoplankton di perairan tersebut semakin tinggi.


Phytoplankton merupakan jenis tanaman berukuran renik yang mempunyai zat hijau daun (chlorophyl) dan selalu melakukan fotosintesa dengan bantuan sinar matahari. Produktivitas plankton akan meningkat dengan semakin meningkatnya intensitas matahari ke dalam perairan, sehingga kelimpahan plankton akan semakin meningkat pula dan akan mengurangi tingkat penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Berdasarkan uraian tersebut maka kecerahan air merupakan suatu variable dari kelimpahan plankton dan tingkat intensitas matahari.

B. Suhu air

Suhu air adalah parameter fisika yang dipengaruhi oleh kecerahabn dan kedalaman. Air yang dangkal dan daya tembus cahaya matahari yang tinggi dapat meningkatkan suhu perairan. Suhu merupakan salah satu controlling factor yang mempengaruhi laju perkembangan terutama pada fase larva selama periode endogeneous feeding (Kamler, 1989). Hal ini ditegaskan oleh Ivleva’s dalam Kamler (1989) bahwa suhu berpengaruh terhadap laju metabolisme hewan air yang bersifat poikilotermis yaitu biokimia jaringan tubuh ikan berubah sesuai dengan suhu lingkungan (Wiegand; Greene dan Selivonchnick dalam Wiegand et al., 1988). Kecepatan reaksi laju metabolisme dipengaruhi oleh suhu dimana pertumbuhan hewan-hewan poikilotermis lebih cepat dengan meningkatnya suhu dalam batas toleransinya (Webb, 1978). Hubungan antara suhu dengan pertumbuhan ikan menurut Brown (1957) yaitu adanya pertumbuhan yang kecil atau tidak ada sama sekali di bawah suhu tertentu (20 celcius). Selanjutnya pertumbuhan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu sampai mencapai titik maksimum (300C), dan menurun kembali atau bahkan menjadi negatif (letal) pada suhu di atas titik maksimum (33oC). Huet (1971) menjelaskan bahwa untuk setiap spesies, suhu optimum pertumbuhan tidak sama. Kemudian dijelaskan bahwa suhu dapat mempengaruhi aktivitas ikan seperti pernafasan, pertumbuhan dan reproduksi. Peningkatan suhu sepanjang toleransi ikan akan meningkatkan metabolisme dan kebutuhan oksigen (Blaxter, 1988). Menurut Fry dalam Wetherley (1972), laju metabolisme tertinggi trdapat pada kisaran suhu 35 – 40oC. Pada setiap suhu aklimasi, yaitu suhu yang menunjukkan toleransi terhadap panas atau dingin, dari tiap jenis ikan memiliki selang limit yang menyatakan titik letal akibat suhu tinggi dan titik letal akibat suhu rendah. Di antara kedua titik tersebut dinamakan titik toleransi sedangkan suhu di atas titik letal akibat panas dan di bawah titik letal akibat dingin ditemukan kondisi resisten (Fry, Hart dan Clawson dalam Jones, 1964). Huet (1971) menyatakan bahwa Cyprinid membutuhkan suhu 18 – 30 oC untuk pertumbuhan optimum dan suhu 20 – 28 oC untuk pemeliharaan. Sedangkan Hora dan Pillay (1962) dalam Wardani (1996) menjelaskan bahwa suhu untuk budidaya adalah 24 – 28 oC. Menurut Rachmatun (1987) suhu optimum untuk pertumbuhan ikan mas di Indonesia berkisar antara 25 – 28 oC. Effendi, H. 2000. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor. 259 hal.

Termometer adalah alat untuk mengukur suhu. Termometer Merkuri adalah jenis termometer yang sering digunakan oleh masyarakat awam. Merkuri digunakan pada alat ukur suhu termometer karena koefisien muainya bisa terbilang konstan sehingga perubahan volume akibat kenaikan atau penurunan suhu hampir selalu sama


gambar 2. Termometer


Alat ini terdiri dari pipa kapiler yang menggunakan material kaca dengan kandungan Merkuri di ujung bawah. Untuk tujuan pengukuran, pipa ini dibuat sedemikian rupa sehingga hampa udara. Jika temperatur meningkat, Merkuri akan mengembang naik ke arah atas pipa dan memberikan petunjuk tentang suhu di sekitar alat ukur sesuai dengan skala yang telah ditentukan. Skala suhu yang paling banyak dipakai di seluruh dunia adalah Skala Celcius dengan poin 0 untuk titik beku dan poin 100 untuk titik didih.

Termometer Merkuri pertama kali dibuat oleh Daniel G. Fahrenheit. Peralatan sensor panas ini menggunakan bahan Merkuri dan pipa kaca dengan skala Celsius dan Fahrenheit untuk mengukur suhu. Pada tahun 1742 Anders Celsius mempublikasikan sebuah buku berjudul “Penemuan Skala Temperatur Celsius” yang diantara isinya menjelaskan metoda kalibrasi alat termometer seperti dibawah ini:

1. Letakkan silinder termometer di air yang sedang mencair dan tandai poin termometer disaat seluruh air tersebut berwujud cair seluruhnya. Poin ini adalah poin titik beku air.

2. Dengan cara yang sama, tandai poin termometer disaat seluruh air tersebut mendidih seluruhnya saat dipanaskan.

3. Bagi panjang dari dua poin diatas menjadi seratus bagian yang sama.

Sampai saat ini tiga poin kalibrasi diatas masih digunakan untuk mencari rata-rata skala Celsius pada Termometer Merkuri. Poin-poin tersebut tidak dapat dijadikan metoda kalibrasi yang akurat karena titik didih dan titik beku air berbeda-beda seiring beda tekanan.( Fred Landis Microsoft Encarta Reference Library 2005 http://en.wikipedia.org/wiki/Thermometer)

C. Warna

Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia atau daerah tampak spektrum dari radiasi elektromagnetik berkisar antara 380-780 nanometer. Radiasi yang tersebar secara merata akan tampak sebagai cahaya putih dan yang akan terurai dalam warna – warna spektrum bias dengan adanya penyaringan oleh prisma atau kisi – kisi pelontaran (difraction grating) yang dipersepsikan sebagai sinar cosmik/foton (lembayung, indigo, biru, hijau, kuning, jingga, merah).

The colors of the visible light spectrum

color

wavelength interval

frequency interval

red

~ 625–740 nm

~ 480–405 THz

orange

~ 590–625 nm

~ 510–480 THz

yellow

~ 565–590 nm

~ 530–510 THz

green

~ 500–565 nm

~ 600–530 THz

cyan

~ 485–500 nm

~ 620–600 THz

blue

~ 440–485 nm

~ 680–620 THz

violet

~ 380–440 nm

~ 790–680 T

Tabel. 1 Propertis warna

Hubungan antara warna yang terserap dengan warna tampak dijelaskan secara rinci oleh Mohler yang dapat disimpulkan bahwa tiap – tiap warna terletak pada daerah panjang gelombang yang sempit, dimana pasangan dari warna terserap dan warna tampak panjang gelombang yang sama atau disebut warna pelengkap/komplementer atau warna pengurangan/subtraksi.

Warna merupakan hasil dari suatu perangkat kompleks (dari) respon faali maupun psikologis terhadap panjang gelombang tampak, yang jatuh pada retina (selaput jala) mata. Penginderaan warna ditimbulkan oleh pelbagai proses fisis. Hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis gelombang warna. Sementara putih dianggap sebagai representasi kehadiran seluruh gelombang warna dengan proporsi seimbang. Jika panjang gelombang dengan rentang (range) sempit jatuh pada retina akan diamati warna – warna individu.

Hubungan antara penyerapan cahaya dengan panjang gelombang dikemukakan dengan menggabungkan hukum Lambert dan Hukum Beer yang didukung oleh aturan Kubelka-Munk. Berkebalikan dengan teori warna, di dalam teori pigmen sensasi putih dianggap sebagai absennya seluruh pigmen.

Teori Brewster pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Teori ini menyederhanakan warna-warna yang ada di alam menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral. Kelompok warna ini sering disusun dalam lingkaran warna brewster. Lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad.

2. Zat Warna

Pada tahun 1876 Witt menyatakan bahwa molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik yang tidak jenuh, kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat antara warna dengan serat. Secara lebih luas zat warna tersusun dari hidrokarbon tak jenuh, Chromogen, Auxocrome dan zat aditif (migration, levelling, wetting agent, dsb) .

Zat organik tak jenuh umumnya berasal dari senyawa aromatik dan derivatifnya (benzene, toluene, xilena, naftalena, antrasena, dsb.), Fenol dan derivatifnya (fenol, orto/meta/para kresol, dsb.), senyawa mengandung nitrogen (piridina, kinolina, korbazolum, dsb).

Chromogen adalah senyawa aromatik yang berisi Chromopores (Yunani :chroma “warna”; phoros, “mengemban”) yaitu gugus tak jenuh yang dapat menjalani transisi    dan n   (teori eksitasi transisi elektron). Khromofor merupakan zat pemberi warna yang berasal daari radikal kimia, seperti ; Kelompok nitroso : -NO, Kelompok nitro : -NO2, Kelompok azo : -N=N, Kelompok ethyline : >C=C<, Kelompok carbonyl : >C=O, Kelompok carbon – nitrogen : >C=NH dan –CH=N-, Kelompok belerang : >C=S dan ->C-S-S-C<. Macam – macam zat warna dapat diperoleh dari penggabungan radikal kimia tersebut dengan senyawa kimia lain. Sebagai contoh kuning jeruk (orange) diperoleh dari radikal ethylene yang bergabung dengan senyawa lain membentuk Hydrokarbon dimethyl fulvene.

Auxochrome, (Yunani ; auxanein, “meningkatkan”) yaitu gugus yang tidak dapat menjalani transisi    tetapi dapat menjalani transisi elektron n. Auksokrom merupakan gugus yang dapat meningkatkan daya kerja khromofor sehingga optimal dalam pengikatan. Auksokrom terdiri dari golongan kation yaitu –NH2, -NH Me, – N Me2 seperti -+NMe2Cl-, golongan anion yaitu SO3H-, -OH, -COOH, seperti –O-; -SO3-, dsb. Auxochrome juga merupakan radikal yang memudahkan terjadinya pelarutan: -COOH atau –SO3H. dapat juga berupa kelompok pembentuk garam: – NH2 atau –OH. Kebanyakan zat organik berwarna adalah hibrida resonansi dari dua struktur atau lebih. Penggolongan zar warna dapat dikatagorikan bermacam – macam menurut parameter yang dijadikan rujukan, sebagai contoh penggolongan zat warna berdasarkan konstitusinya yaitu “Color Index” volume 3, dsb.

Zat warna juga diperoleh dari senyawa anorganik dan dari mineral alam. Zat warna yang diperoleh dari senyawa anorganik dan dari mineral alam sering disebut dengan pigment (tahun 1935 mulai dikenal pigmen yang mempunyai kromofor). Beberapa contoh warna pigment yang berasal dari senyawa anorganik dan mineral alam adalah sebagai berikut : Warna putih : Titanium dioksida, Seng oksida, Seng sulfit, Timbal sulfide. Warna merah : Besi oksida, Kadmium merah, Timbal merah, Toners & lak. Warna hitam : Graphite, Carbon black, Lengas lampu, Magnetite black. Warna biru : Ultramine, Cobalt biru, Besi biru, Tembaga Pthalocyanine. Warna kuning : Seng kromat, Ferit kuning, Kadmium liyhopone, Ocher.

Warna metalik : Aluminium, Debu seng, Serbuk Tembaga. Sedangkan pigmen dari senyawa organik misalnya ftalosianina, monoazo, diazo, antrakuinon, tioindigo, dsb.

Air tidak menyerap semua gelombang sinar spektra matahari dengan sama kuatnya. Dari kedua ujung spektra sinar (sinar dan violet) terlihat bahwa sinar merah lebih banyak disebarkan (diffuns) sehingga oleh karenanya warna air laut semakin dalam selalu dimulai bening kemudian biru sampai biru kehijau – hijauan didalam air. Penyerapan sinar didalam air sesungguhnya dilakukan oleh partikel – partikel yang ada didalamya, seperti sediment, deditrus, binatang atau tumbuh – tumbuhan air. Makin banyak partikel didalam sistim air makin tinggi tingkat absorbsi. Karenanya didalam air dibandingkan dengan udara penyerapan sinar lebih tinggi dialam air. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penyerapan didalam air sesungguhnya dipengaruhi sangat oleh turbulensinya.

Masing – masing persentasi penyerapan dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Area gelap merupakan jumlah absorbsi kumulatif oleh masing – masing komponen spektra, dinyatakan dalam sekian persen dari seluruh komponen sinar yang masuk dalam air.
  2. Sinar ultra violet terserap 100% pada gelombang 300, yang makin mendekat 400 absorbansinya makin kurang (absorbansinya antara 60 – 100 %).
  3. Sinar violet pada gelombang 400 terserap sekitar 60% dengan catatan minimal 20%.
  4. Sedangkan sinar biru diserap sekitar 15 – 20%. Sinar hijau seperti halnya biru diserap dengan jumlah yang hampir sama.
  5. Sinar kuning diserap antara 20 – 70%, sedangkan oranye diserap agak banyak lagi antara 70 – 90%.
  6. Sinar infra merah daya penyerapannya adalah menyeluruh (100%).

Perbedaan penyerapan panjang gelombang ini dapat digunakan sebagai petunjuk audiovisual terhadap suatu kedalaman perairan. Penyerapan sinar matahari dalam air yang paling bersih sedalam 6 – 8 meter hampir sama dengan penyerapan lewat atmosfir dan masing – masing tergantung pada garam – garam terlarut, dan benda benda tersuspensi. Air yang keruh akan meningkatkan difusi sinar karena banyaknya bahan – bahan yang memantulkan sinar. Sinar tampak atau foton yang mengenai partikel – partikel didalam air akan menimbulkan efek termoluminisen dan fluorosensi pada suatu konfigurasi elektron partikel sebagai akibat eksitasi dan resonansi sehingga akan memberikan warna – warna yang khas pada partikel – partikel dalam air dengan panjang gelombang tertentu.

Warna didalam air terbagi menjadi dua (2) yaitu :

3.1 Warna sejati (true color)

Warna yang yang berasal dari penguraian zat organik alami yaitu zat humus (asam humus dan asam flufik), lignin, dimana merupakan sekelompok senyawa yang mempunyai sifat-sifat yang mirip. Senyawa ini menyebabkan warna didalam air yang sukar dihilangkan terutama jika konsentrasinya tinggi dan memerlukan pengolahan dengan kondisi operasional yang khusus/berbeda dengan penghilangan warna semu.

Karakteristik warna sejati pada air adalah:

1. Air berwarna kuning terang sampai coklat-merah

2. Air relatif jernih.

3. pH air relatif rendah , dibawah 6 (rata-rata 3 – 5) oleh karena itu air dengan pH < 4,5 tidak mengandung alkalinitas.

Sifat-sifat zat humus yang terutama dan penting dalam pegolahan air dapat dilihat sebagai berikut:

1. Berat molekul adalah 800 – 50.000

2. Ukuran partikel 90% kurang dari 10 nm, partikel koloid.

3. Partikel warna terdiri dari zat humus yang secara dominan berukuran negatif

4. Sifat-sifat seperti ukuran partikel yang kecil dan mengandung muatan negatif yang kuat menentukan mekanisme penghilangan warna yang secara keseluruhan berbeda dari penghilangan kekeruhan.

Karakteristik air berwarna dan sifat-sifat zat humus menyebabkan air berwarna jenis ini sukar untuk diolah.

3.2 Warna semu (Apparent color)

Warna semu adalah warna yang disebabkan oleh :

1. Partikel partikel penyebab kekeruhan (tanah, pasir dll.)

Zat ini lebih mudah dihilangkan dibandingkan dengan penyebab warna lainnya, biasanya didalam air berbentuk koloid.

2. Partikel/dispersi halus besi dan mangan

Zat-zat ini pada konsentrasi yang sangat rendah, tidak dapat diterima didalam penyediaan air untuk perumahan maupun industri. Sedikit besi dan mangan dapat menyebabkan warna kecoklatan dalam air yang diproduksi.

3. Partikel-partikel mikroorganisme (algae/lumut)

Warna didalam air yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti algae pembentuk warna (seperti blue – green algae), Trichodesmium erythraeum, Oscillatoria rubescens, golongan Cyanobacteria seperti Hammatoidea, Heterohormogonium, Albrightia, Scytonematopsis, Thalopophila, Myxocarcina dan Colteronem, golongan nitrat (nitrisomonas sp. ), bakteri besi (Crenothrix dan Sphaerotilus), bakteri belerang (Chromatium dan Thiobacillus).

4. Warna yang berasal dari pemakaian zat warna oleh industri (tekstil, pengrajin batik, pabrik kertas, dll.), seperti bahan pencelup, cat, pewarna makanan dll.

Zat warna tekstil merupakan suatu senyawa organik yang akan memberikan nilai COD dan BOD. Sebagai contoh dari basil percobaan di laboratorium BBT, air limbah tekstil yang mengandung beberapa zat warna reaktif sebanyak 225 mg/L mempunyai COD 534 mg/L dan BOD 99 mg/L. Sampai saat ini warna air akibat limbah tekstil masih merupakan masalah yang belum terpecahkan sampai tuntas.

Pemeriksaan warna ditentukan dengan membandingkan secara visuil warna dari sampel dengan larutan standard warna yang diketahui konsentrasinya. Kebanyakan metode yang dipakai pada pemeriksaan warna air di instalasi pengolahan air menggunakan metade standar warna Platina – Kobalt dengan satuan mg/L PtCo baik dilakukan dengan instrumen Colorimetri maupun yang lebih sensitif yaitu spektrofotometri.

Aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai dan menganalisis warna air kolam secara garis besar meliputi:

  1. Jenis plankton yang dominan.
  2. Kelimpahan plankton yang dominan.
  3. Kondisi dan kualitas udang/ ikan.

Analisis terhadap jenis plankton yang dominan didasarkan pada karakteristik dan sifatnya serta tingkat permasalahan yang mungkin ditimbulkan di dalam perairan dan pengaruhnya terhadap organisme lainnya. Perairan yang didominansi oleh jenis plankton yang bersifat menguntungkan dan membawa pengaruh yang nyaman dan aman pada organisme lainnya keputusan yang perlu diambil adalah cara untuk mempertahankan, sedangkan jika dominansi yang terjadi adalah dari jenis plankton yang merugikan maka perlu dilakukan penggantian dominansi plankton dengan melakukan penurunan air tambak dalam volume yang besar dan proses inokulasi bibit plankton yang menguntungkan dari petakan tambak lainnya disertai dengan pemupukan.


Kelimpahan plankton yang dominan di perairan erat hubungannya dengan tingkat kecerahan air. Kelimpahan yang terlalu tinggi dari jenis plankton yang merugikan akan sangat membahayakan bagi udang dan dapat menimbulkan masalah serius jika tidak segera diantisipasi.

Analisis warna air yang berkaitan dengan dominansi jenis plankton tertentu harus bermuara pada kondisi dan kualitas udang/ ikan yang hidup di perairan tersebut. Keadaan ini dapat diartikan bahwa meskipun dominansi plankton di perairan tersebut merupakan jenis yang menguntungkan tapi jika kondisi dan kualitas udang/ ikan mengalami degradasi, maka ada sesuatu masalah di dalam perairan tersebut sehingga perlu diadakan identifikasi dan analisis penyebab masalah secara cermat dan akurat. Sebaliknya jika pengamatan warna air menunjukkan adanya dominansi plankton yang merugikan sedangkan kondisi dan kualitas udang dalam keadaan normal, maka proses penggantian air tambak perlu dilakukan secara bertahap dan kontinyu agar tidak menimbulkan stress pada udang sampai dominansi plankton di dalam tambak tergantikan dengan jenis yang baru dan bersifat menguntungkan.

Kriteria warna air yang dapat dijadikan acuan standar dalam pengelolaan kualitas air adalah seperti di bawah ini:

  1. Warna air hijau tua yang berarti menunjukkan adanya dominansi chlorophyceae dengan sifat lebih stabil terhadap perubahan lingkungan dan cuaca karena mempunyai waktu mortalitas yang relatif panjang. Tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang relatif cepat sangat berpotensi terjadinya booming plankton di perairan tersebut.
  2. Warna air kecoklatan yang berarti menunjukkan adanya dominansi diatomae. Jenis plankton ini merupakan salah satu penyuplai pakan alami bagi udang, ikan sehingga tingkat pertumbuhan dan perkembangan udang relatif lebih cepat. Tingkat kestabilan plankton ini relatif kurang terutama pada kondisi musim dengan tingkat curah hujan yang tinggi, sehingga berpotensi terjadinya plankton collaps dan jika pengelolaannya tidak cermat kestabilan kualitas perairan akan bersifat fluktuatif dan akan mengganggu tingkat kenyamanan udang di dalam kolam.
  3. Warna air hijau kecoklatan yang berarti menunjukkan dominansi yang terjadi merupakan perpaduan antara chlorophyceae dan diatomae yang bersifat stabil yang didukung dengan ketersediaan pakan alami.

Standar warna air tambak seperti tersebut di atas merupakan acuan praktis dalam mengidentifikasi jenis plankton sebagai upaya pendeteksian masalah kualitas perairan secara dini. Selain warna standar tersebut ada beberapa warna air kolam/ tambak yang biasa dijumpai dalam kegiatan usaha budidaya, yaitu antara lain:

  1. Warna air kekuningan yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis cyanophyceae. Pada kondisi perairan tambak seperti ini biasanya udang berwarna lebih pucat dari biasanya disertai dengan penurunan nafsu makan udang dan jika tidak segera diantisipasi dapat menimbulkan kerusakan pada hepatopanchreas udang.
  2. Warna air tambak hijau pupus yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis dynophyceae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
  3. Warna air tambak/ kolam biru kehijauan yang berarti menunjukkan adanya dominansi blue green algae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
  4. Kamuflase green color, pada kondisi ini tambak seolah-olah berwarna kehijauan tapi pada dasarnya tidak/kurang mengandung plankton. Hal ini terjadi biasanya pada tambak yang kandungan bibit planktonya sangat kurang tetapi kegiatan pemupukan berjalan terus, sehingga warna yang ditimbulkan adalah warna karena pengaruh cuaca. Kejadian ini dapat diketahui dengan mengukur kecerahan perairan tambak yang biasanya sangat tinggi, atau dengan melihat warna air yang ada pada kincir air yang sedang dioperasikan.

Identifikasi jenis plankton di perairan tambak secara praktis dengan melihat warna perairan seperti telah diuraikan di atas perlu ditunjang dengan pengamatan dan analisis laboratorium secara berkala untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel perairan dan sampel udang dari petakan-petakan tambak baik yang bermasalah maupun yang tidak terkena masalah, sehingga dapat diambil perbandingannya.

BAB III

METODELOGI

A. Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum pengukuran kualitas air (parameter fisika : suhu, warna, kecerahan) ini dilaksanakan mulai tanggal 5 Februari 2009 s/d tanggal 11 Februari 2009 di Kolam induk Patin (Pangasius sp) Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK Pertanian Cianjur.

B. Alat dan Bahan

Alat

¯ Termometer

¯ Secci disk

¯ Mikroskop

¯ Beker glass

¯ Alat tulis

Bahan

¯ Air kolam

¯ Tabel pengamatan (pengukuran)



C. Prosedur Kerja

1. Pengukuran Suhu air.

¯ Menyiapakan thermometer.

¯ Pengukuran dilakukan dengan memasukkan thermometer ke dalam kolam dengan ke dalaman 5 – 10 cm . dibiarkan selama 3 – 5 menit selanjutnya

diangkat dan dilihat nilai suhunya.

¯ Mengukur suhu air kolam di 6 titik ( 2 titik di inlet, 2 titik di bagian tengah kolam, dan 2 titik dekat outlet)

¯ Hasil pengukuran dimasukkan kedalam table pengamatan.

¯ Pengamatan dilakukan selama 1 minggu. Pengkuran dilakukan pagi pukul 08.00 WIB, siang Pukul 12.00 WIB, sore hari pukul 16.00 WIB

2. Pengukuran kecerahan air

¯ Menyiapkan secci disk

¯ Memasukkan secci disk kedalam kolam hingga tidak terlihat secara kasat mata, catat kedalamanya (L1), angkat kembali secci disk secara perlahan hingga tampak kembali catat kedalamanya (L2), nilai kecerahan air adalah hasil rata – rata L1 + L2

¯ Pengukuran warn air dilakukan di tiga titik yakni inlet, tengah kolam, dan outlet.

¯ Pengkuran dilakukan pagi pukul 08.00 WIB, siang Pukul 12.00 WIB, sore hari pukul 16.00 WIB, selama 7 hari.

3. Menentukan warna air

¯ Menyiapakan alat (beker glass, mikroskop )

¯ Mengambil sampel air kolam

¯ Mengamati dibawah mikroskop (jenis plankton yang terdapat dalam air kolam )

¯ Mengamati sampel secara visual partikel/ zat tersuspensi yang terkandung daam air sampel.

¯ Pengamatan dilakukan secara gradual pagi, siang, dan sore selama 7 hari.

¯ Memasukkan data pengamatan kedalam table hasil pengukuran.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil

NO

Hari/

tanggal

Inlet

Tengah

outlet

Pagi

siang

sore

pagi

siang

sore

pagi

siang

sore

1

Kamis/ 7 Feb 09

22,5

24

23

24

23

25

2

Jumat/ 8 Feb 2009

21,5

23

22

21,5

23

23

22

23

23

3

Sabtu/ 9 Feb 2009

21

24

23

21,5

23

23

22

24

22

4

Minggu/ 10 Feb 2009

21

26

26

21,5

26

25

22

27

24

5

Senin/ 11 Feb 2009

25

25,5

24

25

25,5

24

26

25

23

6

Selasa/ Feb 12 2009

22

26

28

21

26

28,5

22,5

26,5

29

7

Rabu/ 13 Feb 2009

25

24

26

25

24

26,5

25

25

26,5

Tabel Hasil Pengukuran Suhu (dalam satuan derajat celcius)

NO

Hari/

tanggal

Inlet

tengah

outlet

Pagi

Siang

sore

pagi

siang

sore

pagi

siang

sore

1

Kamis/ 7 Feb 2009

17

14

16

16

15

12,5

2

Jumat/ 8 Feb 2009

13

13

13,5

13,5

15

13

11,5

15

13

3

Sabtu/ 9 Feb 2009

21

15

14

21

15

14

21

11,5

14

4

Minggu/10 Feb 2009

17

14,5

17

17

15,5

15

17

15,5

15

5

Senin/ 11 Feb 2009

21

22

17

14,5

13

22

15,5

13

20

6

Selasa/ Feb 12 2009

21

22

17

21

15

18

21

15

21

7

Rabu/ 13 Feb 2009

18

16,5

22,5

26,5

18

17

18

11,5

22

Tabel Hasil Pengukuran Kecerahan (dalam satuan cm)

NO

Hari/

tanggal

inlet

tengah

outlet

Pagi

siang

sore

pagi

siang

sore

pagi

siang

sore

1

Kamis/ 7 Feb 2009

CT

CT

CT

CT

CT

CT

CT

CT

2

Jumat/ 8 Feb Feb 2009

CK

CT

CK

CK

CT

CT

CK

CK

CT

3

Sabtu/ 9 Feb 2009

CK

CT

CT

CK

CT

CT

CK

CT

CT

4

Minggu/10 Feb 2009

CM

CK

CK

CM

CK

CK

CM

CK

CK

5

Senin/ 11 Feb 2009

CM

CMKH

CMKH

CM

CMKH

CMKH

CM

CMKH

CMKH

6

Selasa/ Feb 12 2009

CMK

CMK

CMKH

CMK

CMK

CMK

CMK

CMK

CMK

7

Rabu/ 13 Feb 2009

CM

CMKH

CMK

CM

CMKH

CMK

CM

CMKH

CMK

Tabel Hasil Pengamatan Warna air Kolam

  1. Pembahasan.

Kolam yang diamati adalah kolam induk patin (pangasius sp). Sumber air kolam adalah air sungai. sumber air kolam sering mendapat masalah yakni jika musim hujan air sungai mengandung partikel lumpur yang menyebabkan air menjadi keruh. Selain itu jika musim kemarau panjang debit air relative kecil. Selama praktikum pengamatan berlangsung cuaca mendung dan sering turun hujan.

Berdasarkan pengukuran yang dilakukan suhu air kolam selalu berubah – ubah (berfluktuasi) 21 – 29 0 celcius. fluktuasi suhu air kolam yang terjadi selama pengamatan tidak terlalu ekstrim sekitar 2- 30 celcius. Suhu air kolam sering berfluktuasi karena factor cuaca yang sering berubah – ubah yakni cuaca mendung dan sering hujan. Hal ini tentu berpengaruh terhadap suhu air. Suhu lingkungan yang rendah akan mempengaruhi suhu air. Selain itu air hujan juga menyebabkan suhu air menurun karena terjadinya pencampuran air dimana suhu air hujan sangat rendah.

Suhu yang tidak optimal ini tentunya sangat berpengaruh langsung terhadap hewan akuatik . Suhu media berpengaruh terhadap aktifitas enzim pencernaan. Pada proses pencernaan yang tak sempurna akan dihasilkan banyak feses, sehingga banyak energi yang terbuang. Tetapi jika aktifitas enzim pencernaan meningkat maka laju pencernaan juga akan semakin meningkat, sehingga tingkat pengosongan lambung tinggi. Tingkat pengosongan lambung yang tinggi menyebabkan ikan cepat lapar dan nafsu makannya meningkat. Jika konsumsi pakan tinggi, nutien yang masuk kedalam tubuh ikan juga tinggi, dengan demikian ikan memiliki energi yang cukup untuk pertumbuhan.

Suhu media juga berpengaruh terhadap aktifitas enzim yang terlibat proses katabolisme dan anabolisme. Enzim metabolisme berpengaruh terhadap proses katabolisme (menghasilkan energi) dan anabolisme (sintesa nutrien menjadi senyawa baru yang dibutuhkan tubuh). Jika aktifitas enzim metabolisme meningkat maka laju proses metabolisme akan semakin cepat dan kadar metabolit dalam darah semakin tinggi. Tingginya kadar metabolit dalam darah menyebabkan ikan cepat lapar dan memiliki nafsu makan tinggi, sehingga tingkat konsumsi pakan meningkat. Konsumsi pakan yang tinggi akan meningkatkan jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh. Energi ini akan digunakan untuk proses-proses maintenance dan selanjutnya digunakan untuk pertumbuhan.

Suhu media yang optimum akan mendorong enzim-enzim pencernaan dan metabolisme untuk bekerja secara efektif. Konsumsi pakan yang tinggi yang disertai dengan proses pencernaan dan metabolisme yang efektif, akan menghasilkan energi yang optimal untuk pertumbuhan. Proses metabolisme ikan umumnya meningkat jika suhu naik hingga dibawah batas yang mematikan. Berdasarkan hukum van’t Hoff, kenaikan suhu sebesar 10°C akan menyebabkan kecepatan reaksi metabolisme meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan pada kondisi normal. Kebutuhan protein pada ikan untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimum sangat dipengaruhi oleh suhu. www. pengaruh. suhu terhadap ikan.htm posted

Berdasarkan pengamatan warna air kolam patin adalah coklat kekuningan, coklat tua, dan coklat kehijauan. Namun secara umum warna air kolam adalah keruh (coklat) ini disebabkan kandungan partikel lumpur yang terkandung dalam air kolam. Karena sumber air berasal dari sungai. Air sungai dimusim hujan mengandung partikel lumpur yang banyak akibat erosi tanah. Hal ini dibuktikan selama praktik dengan mengamati air kolam yang dimasukkan dalam wadah beker glass dan didiamkan beberapa menit hingga air menjadi jernih karena partikel lumpur mengendap.

Selain itu kolam juga ditumbuhi plankton jenis Diatom. Asumsi ini diperkuat dengan sifat Diatom jenis tertentu tumbuh baik pada suhu rendah ( chrysophyta).

Warna air keruh karena partikel lumpur dapat diminimalisir dengan pengendapan (filtrasi). Pengendapan dilakukan dengan menggunakan bak yang berbentuk zig – zag sehingga aliran air menjadi lambat sehingga partikel lumpur mengendap, selain tiu dapat dilakukan dengan filtrasi secara biolgi dengan menggunakan tumbuh air seperti eceng gondok. Aceng gondok merupakan penyaring biologi karena akar – akarnya yang halus dan rapat dapat dijadikan dapat mengabsorbsi partikel lumpur.

Kecerahan Air Kolam

Pengukuran kecerahan air yang dilakukan dikolam induk patin diperoleh : kecerahan kolam berkisar 13 – 22 cm. nilai kecerahan ini kurang baik untuk budidaya termasuk untuk ikan patin. Kondisi ini diperparah dengan intensitas cahaya yang rendah karena cuaca yang mendung menyebabkan pertumbuhan plankton khususnya fitoplankton yang melakukan fotosintesis jadi terhambat. Air yang keruh menyebabkan tingkat kecerahan rendah selanjutnya mempengaruhi DO, Suhu, dan pH air. Air yang keruh akan menyebabkan kandungan DO dalam air menjadi randah karena produktifitas fitoplankton yang menghasilkan oksigen jadi berkurang, sebab intensitas cahaya yang menembus kolam air terhalangi.

Pengaruh kekeruhan air akibat lumpur dapat diminimalisir dengan pengendapan (sedimentasi) dan filtrasi air sebelum masuk kekolam. Namun untuk menghindari kekeruhan air yang tinggi sebaiknya jika musim hujan debit air masuk kekolam dapat diperkecil).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kualitas air kolam parameter fisika meliputi warna dan kecerahan tidak optimal karena kandungan partikel lumpur yang tinggi.

B. Saran

Sebaiknya dilakukan pengamatan parameter kualitas air yang lain (kimia , dan biologi) untuk mengetahui hubungan dan pengaruh masing – masing parameter. Kualitas air yang optimal bagi ikan tidak dapat ditentukan oleh parameter fisika saja harus didasarkan parameter lain( Kimia dan Biologi).

DAFTAR PUSTAKA

M.Ghufran H.Kordik K, Baso Andi Tancung: Pengelolaan Kualitas air dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta 2007

www. « maswira’s Weblog. Suhu _ Temperatur Air htm

www.smknegeri3kimiamadiun.wordpress.comhtm metode pengolahan warna air.

Warna Air Tambak – 02Aspek Analisis Senin, 2008 Agustus 11





Teknologi Pembuatan pakan buatan

10 02 2009

MEMBUAT

PAKAN IIKAN BUATAN

Penyusun :

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat-Nya-lah penulis dapat menyelesaikan modul “Membuat Pakan Ikan Buatan”.Modul ini terdiri dari 6 kompetensi Kegiatan yang saling berkaitan, diawalidengan “Identifikasi dan pemilihan bahan aku pakan buatan”,kemudian “Penghitungan formulasi pakan”, “Pembuatan pakan Buatan”, “Pengujian pakan buatan secara fisik, kimiawi dan biologis”, selanjutnya “Pengemasan dan penyimpanan pakan” dan diakhiri dengan “Penyusunan program pembuatan pakan buatan”.

Serangkaian Lembar Kegiatan ini memiliki tujuan instruksional umum yaitu siswa mampu menyusun program pembuatan pakan ikan dan memperhatikan nilai gizi, sifat-sifat dan ketersediaan bahan baku pakan agar sesuai dengan kebutuhan ikan.

Modul ini tentu saja masih terbuka untuk di kritik-konstruktif dan diberi saran, dengan tujuan untuk kesempurnaan tulisan ini.

Bandung, Februari 2009

Penyusun,

Baca entri selengkapnya »





Materi MOODLE

8 02 2009

Teknologi pakan buatan

kompetensi

  1. Nutrisi pakan
  2. Bahan baku pakan
  3. Preservasi dan Penanganan bahan baku
  4. Formulasi pakan dan manufaktur
  5. Pengemasan dan pelabelan
  6. ekonomi/ analisa usaha produksi pakan akuakultur




Masyarakat Silau Kahean harus bijak di Pemilu 2009

7 01 2009

Begitu melihat postingan dari metro-siantar  perihal jumlah  caleg DPRD Simalungun dari Silau Kahean yang mencapai lebih dari 10 orang  saya sangat terkejut dan terkesima,   betapa tidak caleg asal Silau Kahean lebih dari 10 orang.

Banyaknya caleg, dengan jumlah penduduk Silau Kahean yang relatif sedikit dan sistem penetapan pemenang yang mengharuskan mencapai 30% suara saya rasa  impian masyarakat untuk dapat mendudukkan wakilnya hanya khayalan belaka.  Mungkin   sejarah di pemilu 5 tahun yang lewat akan terungkit kembali kepermukaan ..Jangan sampai masyarakat Silau Kahean terjerumus kedalam lubang yang sama” dengan realitas “anggota DPRD Kab. Simalungun asal Silau Kahean nihil .

Hal ini menggambarkan optimisme  para caleg sangat tinggi,  dari segi lain saya sangat menyayangkan sikap para caleg yang tidak mau kompromi, sifatnya kekanak – kanakan. tidak mau mengalah!!!!!! ini jelas bukti bahwa kualitas dari beberapa caleg masih diragukan, karena tidak mampu menilai kapasitasnya, untuk menjabat gelar wakil rakyat. saya tidak tidak mengerti jelas apa yang menjadi motivasi para caleg; apakah ini ajang pamer kekuasaan dan harga diri, atau dorongan hati nurani untuk membangun daerah,,, yang jelas itu semua hanya para calegnya yang tau….

Menyikapi hal tersebut sudah sepatutnya dipemilu yang hanya menyisahkan beberapa bulan ini warga harus bisa menyatukan pendapat dan suaranya sehingga mampu mendudukkan calon yang layak menjadi wakil rakyat Silau Kahean. kekalahan dipemilu 2004 dapat dijadikan pelajaran buat kita semua. Masyarakat Silau Kahean harus  bijak dan harus obyektif dalam pemilihan masa mendatang ini. lupakan hubungan famili, pengaruh sara dll.……..karena yang layaklah yang berhak menjadi pemenang.

Saya kurang mengetahui pribadi para caleg, mungkin masyarakat sudah mengenal dekat, silahkan sampaikan inspirasi anda..Kemajuan Silau Kahean dimasa mendatang ada ditangan anda, sebab anda yang menentukan.

tunjukkan bahwa  Motto “Simalungun Habonaron Do Bona” adalah nyata..

horas.. ma Silau Kahean